Sabtu, 26 April 2014

My Name is Julius Tan


Julius adalah sebuah nama yang diberikan kepadaku kurang lebih 20 tahun yang lalu tepatnya tanggal 12 Juli 1994 (promosi ulang tahun) hehehe. Aku sempat bertanya tentang arti dari namaku sendiri, kenapa aku memiliki nama yang begitu simpel dan singkat hehehe. Lalu orang tuaku memberitahu bahwa nama itu diberikan karena aku dilahirkan di bulan Juli, emmm begitu simpel jawaban kedua orang tuaku sih, ya sesuai dengan simpelnya namaku hehehe.

    Ketika aku ditanya oleh setiap orang tentang siapa namaku lalu aku menjawabnya bahwa namaku adalah “Julius”. Itu sajakah? Nama panjangnya siapa?

“Julius doang” atau kadang aku biasa menjawabnya dengan “Julus aja, Julius tok!”.

Sebenarnya terdapat sedikit pertanyaan kenapa namaku begitu simpel, padahal setiap orang tua selalu memberikan nama terbaik untuk anaknya, yang biasanya dibalik nama tersebut adalah doa ataupun harapan dari orang tuanya. Setiap nama seorang anak pasti ada yang unik, panjang, bermakna, dan lain-lain tapi berbeda denganku. Itulah yang membuatku terkadang merasa iri.     

Julius, emm mungkin namaku identik dengan seorang bangsa Romawi atau yang lebih dikenal dengan nama Julius Caesar, atau adapula yang menyamakan namaku dengan seniman Indonesia yaitu Julius Sitanggang, Ya itulah mungkin yang ada dibenak setiap orang jika mendengar nama Julius. Atau mungkin orang tuaku berharap aku bisa menjadi seseorang yang berpengaruh seperti Julius Caesar dan Julius Sitanggang kali ya hehehe.

Ada hal yang unik dibalik namaku ini, mungkin jika seseorang yang bernama Julius di dunia ini adalah seorang non Muslim, tapi berbeda denganku, aku adalah seseorang yang bernama Julius dan aku adalah seorang Muslim. Aku terlahir dari seorang pria luar biasa yang bernama Kasan Tan, beliau adalah orang keturunan Tionghoa dan seorang wanita perkasa yang bernama Nurcahaya Gultom yang merupakan keturunan Batak. Fisikku sendiri mungkin lebih pas jika dikatakan keturunan Tionghoa, mungkin karena mata sipitku ini hehehe.

Seorang ayah yang merupakan keturunan Tionghoa yang lebih identik dengan agama Buddha, dan seorang ibu yang merupakan keturunan Batak yang mungkin lebih identik dengan kaum Nasrani, tapi aku adalah seorang Muslim emm mungkin banyak orang yang bertanya-tanya tentang diriku, apalagi jika seseorang yang baru mengenalku dan melihatku berada di mesjid mungkin dalam benakknya ini di mesjid ada anak mualaf ya, lalu ia datang berkenalan denganku dan menanyakan namaku.

“Namaku Julius”.

Mungkin setelah itu dia langsung spot jantung dengar namaku. Mungkin dalam benaknya, “Anak ini muka cina, nama romawi gitu kayak orang non Muslim, tapi ke mesjid -____-” ”.

   Setelah lama kenal dia baru bilang, “Eh maaf ya dulu itu aku kira kamu non Muslim loh dari nama dan wajahnya keliatannya begitu, eh kok masuk mesjid, ternyata kamu Muslim”.

“Kamu sih mungkin udah orang ke-1000 yang bilang gitu”, ya begitulah jawabanku setiap kali ada yang ngomong begitu walaupun aku tak tau dia orang ke berapa, mungkin sudah seribu lebih ya sekarang, tapi tetep aja kubilang kamu orang ke-1000 hehehe.

   Sebenarnya nama lengkapku adalah Julius Tan. Tan sendiri adalah sebuah marga yang diturunkan dari ayahku. Katanya sih setiap orang Tionghoa itu pasti punya nama Tionghoanya. Emm dan Alhamdulillah di balik simpelnya namaku aku punya nama yang keren, ya bagiku sih keren hehehe. “Chen Guo You”, iya itu lah nama lainku. Chen adalah sebuah marga, kalau bahasa Indonesianya “Tan” dan kalau Mandarinnya adalah ”Chen”. Guo itu memiliki arti negara sedangkan You adalah sahabat. Jadi makna dari nama Chen Guo You itu adalah sebuah negara yang bersahabat. Kalau nama ini sendiri adalah nama diberikan oleh ayahku dikarenakan beliau masih memegang budaya Tinghoa yang ia percayai, mungkin dia ingin anaknya bisa berkembang seperti sebuah negara yang bisa menaungi jutaan rakyatnya dan juga menjadi seseorang yang bersahabat dengan setiap orang, kayaknya sih hehe. Ya walaupun pelafalannya agak sulit ya “Chen Guo You”, tapi aku sangat suka akan nama itu.

   Aku punya sebuah sejarah hidup yang buruk dengan namaku ini. Aku sempat ingin menghilangkan marga “Tan” yang ada pada diriku dengan tidak mau menempelkannya di absen, rapot, dan bet nama baju SD ku kala itu. Aku ingat kala itu aku tidak mau di baju sekolahku ada nama “Tan” aku hanya ingin nama yang ada di bajuku hanya “Julius”. Kenapa? Kenapa begitu?

   Aku sempat malu dengan keadaan namaku, terutama margaku itu. Aku merasa berbeda sendiri dengan teman-temanku yang lain. Aku malu ketika aku seorang Muslim tapi aku memiliki marga “Tan”.  Aku malu ketika aku seorang Muslim tapi mataku cipit dan aku memiliki kulit yang putih. Aku sempat berkata kepada ibuku waktu itu.

“Ma, Juli ingin punya kulit hitam aja, Juli mau main di terik matahari aja biar hitam biar tidak keliatan kalau Juli adalah orang Cina”, kataku.

Aku juga sempat berkaca di depan cermin dan mencoba membuka mataku lebar-lebar agar aku tidak memiliki mata sipit lagi ya maklum lah namanya juga anak kecil hehehe. Aku sempat sedih ketika aku mengingat pemikiranku waktu itu. Aku begitu malu dengan keadaan keturunanku yang mungkin berbeda dengan yang lain. Mungkin memang iya dulu aku sempat merasakan tekanan sosial dengan nama, fisik, dan kepercayaanku yang saling bertolak belakang. Ya tapi memang begitulah perasaanku waktu itu.

Sekarang aku tidak peduli dengan namaku yang simpel, margaku yang sempat ingin kuhilangkan saja karena aku tidak mau orang beranggapan kalau aku adalah seorang Buddhis, fisikku yang tidak cocok dengan orang Muslim lainnya, bagiku yang terpenting adalah menunjukkan pada semua orang kalau orang yang memiliki marga “Tan’ juga ada yang seorang Muslim dan bukan Mualaf. Aku bukan seperti Ustadz Felix Siauw yang memeluk agama Islam di masa dewasanya, aku sudah menjadi seorang Muslim sejak aku lahir, aku sudah biasa dengan anggapan setiap orang di awal perkenalanku dengannya, pasti ia memiliki pemikiran yang sama dengan yang lain. Aku seharusnya bangga dengan namaku yang mungkin lebih mudah orang mengingatnya. Aku juga tidak ingin menyembunyikan lagi marga yang kumiliki sekarang. Marga yang diturunkan dari ayahku, aku hanya ingin orang tau kalau aku yang sukses nantinya adalah seorang yang terlahir dari seorang yang keturunan Tinghoa dan memiliki marga “Tan”, aku sudah seharusnya bangga dengan marga yang kumiliki. Saat ini aku sudah ada beberapa orang yang memanggilku dengan Bapak Tan, walaupun sebenarnya masih agak asing di telingaku, tapi aku cukup senang akan panggilan itu. Ya setidaknya setiap orang akan tau kalau aku punya marga itu dan aku bangga dengan marga itu.




Orang Tua dan Anaknya


Setelah sebelumnya mendapatkan kisah inspiratif mengenai seorang pembrondol yang menyekolahkan anaknnya hingga kuliah, kali ini aku mendapatkan kisah luar biasa lagi dari seorang mandor perawatan yang juga telah susah payah menyekolahkan anaknya.

Kebetulan anaknya adalah adik kelasku juga di IPB. Walaupun tak seromantis kisah yang sebelumnya, tapi ada point penting dari kisah ini yang mungkin bisa membuka pikiran kita untuk bisa menjadi lebih baik.

Karena bisa lulus di program beasiswa yang sama, kuliah ini tidaklah menjadi beban besar bagi orang tua. Kalau boleh jujur sebenarnya uang saku yang diberikan masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ditambah lagi dengan lumayan besar biaya hidup di Bogor jika dibandingkan dengan Medan sih. *kurang bersyukur sepertinya hehehe. Tapi begitulah kenyataannya, masih banyak mahasiswa yang minta bantuan ke orang tua untuk bisa memberikan tambahan uang saku.

Beliau sempat bertanya mengenai kelakuan anaknya di kampus apakah baik atau tidak. Aku yang kebingungan hanya bisa menjawab pastinya dia lebih dewasa pak dan sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk, soalnya jika aku bilang tidak baik nantinya bisa berabe urusannya dan kalau kubilang baik nanti dikira muji-muji anaknya hehehe. Berhubung aku tidak tau pasti maka kusampaikan saja seperti itu hehehe.

“Kalau dia mudah-mudahan lebih dewasa pak dibandingkan dengan adik-adiknya yang lain”.

“Baguslah pak kalau begitu, jadinya kan bapak tidak usah terlalu mikiri keadaannya di Bogor”.

“Iya pak mudah-mudahan bisa membantu adik-adiknya lah nanti jika sudah sukses. Soalnya pak, pernah saya bertanya kepada dia apakah dia punya uang atau tidak, dia bilangnya uangnya masih ada, eh rupanya setelah itu dia langsung menghubungi adeknya untuk minjam uang karena dia segan untuk ngerepotin saya pak, tapi adiknya menyampaikan kepada saya walaupun tanpa sepengetahuan dia pak, makanya sekarang saya selalu ngirimin dia uang walaupun dia bilang kalau uangnya masih ada, karena gitu kenyataannya pak kadang dia lebih memilih kelaparan daripada ngerepotin orang tuanya, iya kita sebagai orang tua tidak tega lah melihat dia seperti itu”, cerita bapak itu dengan logat bataknya hehehe.

Maklum disini kebanyakan orang-orang batak yang bahasanya masih sangat kental.

Begitu singkat cerita Bapak itu tapi begitu banyak makna yang tersirat dalam perbincangan kami. Pertama, sebagai orang tua bagaimana pun keadaannya dia tetap lebih mengutamakan keadaan anaknya walaupun si anak tidak mau merepotkan mereka. Terkadang banyak orang tua yang cerewet kepada anaknya tapi walaupun begitu cerewetnya mereka tidak sebanding dengan besarnya kasih sayang mereka. Aku mengetahui keadaan keuangan orang tuanya mungkin bisa dikatakan pas-pasan, tapi dia tidak peduli dengan keadaan keuangan yang pas-pasan itu asal bukan anaknya yang sampai tidak makan disana gara-gara ingin menghemat uang yang ia punya. Mungkin saja jatah makan orang tuanya yang tiga kali sehari diporsir olehnya menjadi dua kali dan jatah makan satunya disisihkannya untuk uang pesawat anaknya ketika ingin pulang ke kampung halaman. Bagitulah besarnya pengorbanan orang tua untuk harapannya di masa depan yaitu kesuksesan anaknya.

Kedua, sebagai seorang anak sudah seharusnya kita mengerti keadaan orang tua. Aku  salut dengan anak tersebut yang bisa kukatakan sudah cukup dewasa. Memang sudah saatnya kita mandiri dan tidak merepotkan orang tua lagi. Tindakan dia benar-benar  kuacungkan jempol hehehe. Mau sampai kapan kita merepotkan kedua orang tua kita, setidaknya secara perlahan kita harus bisa mengurangi intensitas uang yang diberikan beliau untuk kita. Apalagi jika kita lebih sering menghabiskan uang yang mereka peroleh dengan keringat hanya untuk kepuasan sementara tanpa ada hasilnya. Memang pasti sulit, tapi mari perlahan dan secara bertahap untuk tidak merepotkan mereka lagi. Aku sudah merasakan capeknya kerja dibawah terik matahari, pergi pagi-pagi lalu pulang sorenya hanya untuk anak tercinta tapi apa balasan dari kita? Jujur jika aku terus-terusan seperti itu mungkin hanya bisa mengeluh apalagi gaji tidak sebanding dengan keringat yang keluar. Mereka hanya ingin kita sukses, maka daripada itu ayok berkomitmen untuk bisa sukses dan mulai belajar lebih dewasa.

Untuk saat ini mungkin beliau yang selalu mengirim kita uang saku, tapi tahun depan kita sudah harus bisa mengurangi intensitas uang yang mereka kirim, lalu tahun berikutnya kita sudah tidak bergantung dengan uang kiriman mereka bahkan mungkin sudah bisa mengatakan untuk tidak usah mengirimkan uang saku lagi, dan tahun berikutnya lagi sudah kita lah yang mengirim mereka uang bukan mereka yang memberikan kita uang. Subhanallah Allahu Akbar!!


Tetap semangat teman-teman, semoga kita bisa membuat mereka tersenyum dengan apa yang telah kita lakukan.


Demi Buah Hati Apapun Kulakukan


Perantauanku saat ini setelah kota Bogor adalah Riau. Disinilah aku berdiri sekarang untuk 5 bulan ke depan. Kebun Rama-rama insyaAllah akan menjadi sebuah tempat yang takkan kulupa karena akan banyak memberikanku pelajaran baik di dunia sawit, sosial, ataupun yang lainnya.

Kusingkirkan tingkah keanak-anakanku ditempat ini. Aku bukanlah dipanggil lagi adek, mas, bang atau apapun, saat ini semua orang memanggil diriku dengan sebutan Pak.

“Aku masih muda bu, pak, masak sudah dipanggil Bapak hehehe”, gumamku dalam hati.

Tapi beginilah kenyataannya hehehe aku sudah menjadi bapak-bapak disini hehehe.

Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kali ini. Disini aku belajar bagaimana menjadi orang tua yang berjuang demi anaknya dan belajar bagaimana menjadi seorang anak agar tidak mengecawakan orang tua yang telah berjuang demiku.
Sesuap nasi yang dimakan orang-orang disini semua bergantung dari perusahaan yang memperkerjakan mereka. Bangun pagi-pagi, ikut lingkaran pagi, berangkat ke kebun, kerja mati-matian demi memperjuangkan si “Rupiah”. Begitulah rutinitas setiap harinya yang mereka lakukan.
Di kebun ini aku berjumpa dengan ayah sahabatku di kampus yang kebetulan satu jurusan denganku. Beliau bekerja sebagai karyawan disini tepatnya seorang pengutip brondolan kelapa sawit. Kulihat dia berjalan tanpa alas kaki mengelilingi kebun yang beratus-ratus hektar sambil mengutip brondolan sawit yang jatuh dan tercecer, berpakaian baju kampanye yang diberikan oleh salah satu partai politik serta celana yang juga seadanya. Kujabat tangannya sambil tersenyum seraya berkenalan dengannya dan menyampaikan kalau aku adalah teman anaknya di kampus. Beliaupun membalas senyumku dengan senyum terbaiknya walau harus menampakkan gigi-giginya yang perlahan mulai hilang.

“Bapak itu dulunya adalah seorang pemanen namun sekarang karena sudah tua, beliau tidak mampu lagi memanen ditambah dengan semakin tingginya tanaman, oleh karena itu saat ini beliau hanya mampu mengutip brondolan”, celetus dari salah satu mandor yang menemaniku saat itu.

“Sekarang anak bapak itu seangkatan dengan bapak kan di IPB?”, tanyanya.

“Iya pak kebetulan kami seangkatan dan saya lumayan kenal dengannya”, jawabku.

Mandor itu bercerita panjang mengenai cerita hidup seorang bapak tua yang mati-matian menyekolahkan anaknya hingga berkuliah saat ini walau hanya sebagai seorang pemanen dan pembrondol.

“Ketika anaknya telah lulus di program wisuda yang diberikan Sinarmas ini, bapak itu merasa bahagia bercampur sedih. Senang karena dia berharap anaknya bisa sukses dan bisa menyekolahkan adik-adiknya, ada pula perasaan sedih karena di lain sisi dia tidak memiliki uang untuk memberangkatkan anaknya ke Bogor. Sebelum berangkat bapak itu sempat keliling kampung ini untuk minjam uang ke tetangga-tetangga untuk bisa memberangkat anaknya tapi tidak satu pun orang mau memberikan pinjaman dengan alasan masih sama-sama butuh uang tersebut. Pintu ke pintu tapi tak juga ada yang mau membantu. Saya sebenarnya begitu sedih tapi saya juga tak punya uang untuk membantunya. Akhirnya Bapak tersebut meminta tolong kepada saya untuk membantunya meminjamkan uang di bank karena sulitnya mencari pinjaman di kampung ini, tapi ketika saya tanyakan apakah bapak tersebut punya akte, surat nikah atau yang lainnya, beliau juga tidak punya. Saya sempat bingung bagaimana menolongnya. Benar-benar tidak tega melihat bapak tersebut. Akhirnya saya berusaha mencari bantuan untuk menggadaikan surat tanah orang untuk bisa minjam uang di bank, dan untungnya ada yang prihatin dan ikhlas membantu dan dengan syarat, biaya per bulan yang dikenakan oleh bank menjadi tanggungan bapak tersebut, dan bapak itu mengiyakannya” cerita bapak mandor tersebut.

Apapun kulakukan demi suksesnya anakku walau keringat bercucuran darah nantinya, mungkin begitulah yang ada pada benak bapak tersebut. Dan mudah-mudahan anaknya bisa membalas kerja keras orang tua saat ini di masa depan.

Beberapa hari setelahnya aku mengetahui bahwa setiap bulannya beliau hanya mendapatkan tidak lebih dari 2 juta, menghidupi keluarga dengan uang secukupnya mungkin juga kurang sebenarnya, fasilitas dari perusahaan pun kurasa kurang baginya. Aku teringat ketika anaknya sering telat membayar uang kosan, jarang ikut patungan jika ada sesuatu, ataupun ikut jalan-jalan. Perasaanku benar-benar terharu saat itu. Hatiku bertanya kenapa aku tidak peka terhadap kehidupan teman-temanku sendiri. Namun, yang bisa kulakukan adalah berdoa semoga usaha yang dilakukan bapaknya takkan bisa dan semoga anakknya bisa membalas kerja keras yang dilakukan orang tuanya.



       Dengan sepenggal kisah ini, bukan hanya dia, mungkin aku dan kita semua harus bisa membahagiakan semua orang yang telah berjuang demi kita terutama orang tua kita. Tetap syukuri hidupmu saat ini, jangan cepat puas dengan segalanya, tetap berusaha demi kehidupan yang lebih baik untukmu dan untuk semuanya karena pahitnya hidup yang kita alami mungkin lebih pahit lagi kisah hidup orang di luar sana atau bahkan sahabat kita sendiri. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin..

Sabtu, 08 Maret 2014

Mengukir Prestasi


Pengalaman Organisasi

1.      Ketua Departemen Olahraga OSIS SMA Negeri 4 Medan 2010/2011
2.      Ketua I Bidang Internal Bina Mental Islam (Bintalis) SMA Negeri 4 Medan 2010/2011
3.      Anggota Departemen Apresiasi Karya dan Seni Teater Enceng Gondok SMA Negeri 4 Medan 2010/2011
4.      Penangung Jawab Mata Kuliah Matematika PKS’49 Semester I 2012
5.      Bendahara PKS’49 Semester II 2013
6.      Anggota Departemen Olahraga Seni dan Budaya BEM-J IPB Kabinet Trilogi Integrasi 2012/2013
7.      Ketua Departemen Syiar Forum Rohis Diploma IPB 2012/2013

Pengalaman Kepanitiaan

1.      Ketua Pelaksana Silahturahmi Program Ramadhan XXVII Bintalis SMA Negeri 4 Medan Tahun 2009
2.      Wakil Ketua Pelaksana Perayaan Maulid Nabi Muhammad saw SMA Negeri 4 Medan Tahun 2010
3.      Ketua Seksi Peralatan dan Tempat Isra Mi’raj SMA Negeri 4 Medan Tahun 2010
4.      Wakil Ketua Pelaksana Program Ramadhan XXVIII Bintalis SMA Negeri 4 Medan 2010
5.      Wakil Ketua Pelaksana Idul Adha SMA Negeri 4 Medan Tahun 2010
6.      Ketua Seksi Transportasi Latihan Dasar Kepemimpinan XXVI Bintalis SMA Negeri 4 Medan Tahun 2010
7.      Sub-Kordinator Masa Orientasi Siswa (MOS) SMA Negeri 4 Medan Tahun 2010
8.      Anggota Seksi Peralatan Tempat MOS Teater Enceng Gondok SMA Negeri 4 Medan Tahun 2010
9.      Ketua Pelaksana Bintalis Training Program (BTP) SMA Negeri 4 Medan Tahun 2011
10.  Anggota Seksi Transportasi Teater Expedition & Recreation (TER) Teater Enceng Gondok SMA Negeri 4 Medan Tahun 2011
11.  Ketua Seksi Transportasi Buka Bersama Teater Enceng Gondok SMA Negeri 4 Medan Tahun 2010
12.  Master of Training (MOT) Program Ramadhan XXIX Bintalis SMA Negeri 4 Medan 2011
13.  Kordinator Masa Orientasi Siswa (MOS) SMA Negeri 4 Medan Tahun 2011
14.  Anggota Seksi Konsumsi Diklat OSIS SMA Negeri 4 Medan Tahun 2011
15.  Anggota Seksi Acara Perpisahan Kelas XII SMA Negeri 4 Medan Tahun 2011
16.  Anggota Divisi Pertandingan Olimpiade Mahsiswa Diploma IPB (OMDI) Tahun 2012
17.  Ketua Divisi Logistik “Seminar Ada Apa Dengan Cinta (AADC)” Tahun 2012
18.  Anggota Divisi Acara Silahturahmi dan Halal bil Halal PKS Tahun 2012
19.  Anggota Divisi Acara Pelepasan Wisudawan PK PKS Batch V Tahun 2012
20.  Ketua Kontingen Diploma IPB pada Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI) Tahun 2013
21.  Kordinator Penanggung Jawab Program Keahlian PKS pada Masa Perkenalan Kampus Mahasiswa Baru (MPKMB) IPB Angkatan 50 Tahun 2013
22.  Anggota Divisi Keamanan Pekan Budaya dan Seni (PSB) Diploma IPB Tahun 2013
23.  Ketua Pelaksana “Seminar Ekonomi dan Cinta PLANET (Power of Love and Economy Training)” Tahun 2013
24.  Ketua Divisi Logistik Santunan Anak Yatim (SAY) DKM Al-Ghifari 2013
25.  Anggota Divisi Acara Pelepasan Wisudawan PK PKS Batch VI Tahun 2013
26. Ketua Divisi Pertandingan Olimpiade Mahasiswa Diploma IPB (OMDI) 2013
27.  Ketua Pelaksana Rihlah dan Tadabur Alam Mentoring Tahun 2014
28.  Admin One Day One Juz (ODOJ) 398 Tahun 2014


Prestasi

1.      Juara III Tunas Muda Cup (SSB TGM) 2007
2.      Juara II Bina Muda Cup (Bina Muda FC) 2008
3.      Juara I Bina Muda Cup (Bina Muda FC) 2009
4.      Juara II Tunas Jati Cup (SSB Mencirim Putra) 2009
5.      Pemain Terbaik Bina Muda Cup (Bina Muda FC) 2009
6.      Tim TGM (Thamrin Graha Metropolitan) U-18 dalam Piala Suratin U-18 Wilayah Sumbagut 2009
7.      Juara III Lomba Baca Puisi Penyair Medan Tingkat Kota 2010
8.      Juara I Lomba Festival Ekskul pada EXPO Piala Walikota Kota Medan 2010
9.      Captain Tim Sepakbola SSB Mencirim Putra dalam Mencirim Putra Cup 2010
10.  Tim ASBIN (Asosiasi Sepakbola Binjai) 2010
11.  Tim PSMS Jr. U-18 dalam Piala Suratin U-18 Tingkat Nasional 2010-2011
12.  Juara II Piala Suratin U-18 Wilayah Sumbagut (PSMS Jr.) 2010
13.  16 Besar Piala Suratin U-18 Tingkat Nasional (PSMS Jr.) 2010-2011
14.  Juara IV Liga Pendidikan Indonesia (LPI) Tingkat Kota Medan 2011
15.  Captain Tim Sepakbola SMA Negeri 4 Medan pada LPI 2011
16.  Juara III Musikalisasi Puisi Festival AMUK Unimed 2011
17.  Aktor Pembantu Terbaik Festival AMUK Unimed 2011
18.  Juara II Drama Pendek FSLS2N Tingkat Kota Medan 2011
19.  Juara I Tari Berpasangan 2011
20.  Juara I Lomba Band (For You) Festival Band Yamaha SMA Negeri 4 Medan 2011
21.  Juara II Lomba Festival Ekskul pada EXPO Piala Walikota Kota Medan 2011
22.  Juara III Lomba Festival Ekskul pada EXPO Piala Walikota Kota Medan 2012
23.  Juara II Musikalisasi Puisi Festival Teater TEMUGA SMA Negeri 3 Medan 2012
24.  Juara Harapan I Lomba Band Akustik (Rindu) Festival Teater TEMUGA SMA Negeri 3 Medan 2012
25.  Program Keahlian Terdisplin MPKMB Diploma IPB “Generasi Berkarya” 2012
26.  Juara II Sepakbola Olimpiade Mahasiswa Diploma IPB (OMDI) 2012
27.  Peserta Terbaik Latihan Kepemimpinan Kaders (Lakers) Forum Rohis Diploma IPB 2012
28.  10 Besar Lomba Tulis Cerpen Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) IPB 2013
29.  Runner-up Olimpiade Mahasiswa IPB (OMI) 2013
30.  Juara II Futsal Olimpiade Mahasiswa Diploma IPB (OMDI) 2013
31. Juara II Sepakbola Olimpiade Mahasiswa Diploma IPB (OMDI) 2013

    Alhamdulillah hingga sekarang Allah telah memberikan pengalaman yang luar biasa untuk kujalani.. Semoga prestasi ini takkan berakhir sampai disini aamiin..

Selasa, 25 Februari 2014

My Little Circle


Disinilah aku berkumpul..
Disinilah aku bercerita..
Disinilah aku belajar..
Disinilah aku berbagi..
Inilah lingkaran kecilku, lingkaran yang membuatku belajar banyak hal..

Disini pula aku mengenal tarbiyah..
Tarbiyah telah mengajarkanku berbagai hal yang kucari-cari selama ini.
Benar-benar indah nuansa tarbiyah itu, tidak salah jika aku telah mengejar-ngejarnya sejak SMA.
Belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, belajar untuk bermanfaat bagi orang lain.

Sudah setahun lebih aku berkumpul di lingkaran kecil ini, sudah banyak pula ilmu pula yang kudapat dan semoga kita semua bisa mengaplikasikannya di kehidupan nyata. Berganti murabbi, libur panjang, berbenturan dengan kesibukan di luar, banyak tugas, ngantuk, sakit, hujan deras, semua cobaan itu telah menjadi bumbu indah saat ini karena kita masih saling berpegang tangan untuk tetap melanjutkan dakwah ini J. Semangat teman-teman.

Hari ini, 22 Februari 2014 kita merencanakan hal yang luar biasa, membuat suatu yang berbeda yaitu liqo di alam terbuka sambil camping dan rihlah di Gunung Bunder yang berada di kaki Gunung Salak. Sebenarnya tujuan sampingannya mau refreshing juga sih sebelum berangkat magang hehe. Namun hal yang sangat disayangkan kita hanya ber-9 andai saja kita lengkap pasti lebih seru.

Agendanya saat itu adalah liqo, camping, bakar jagung, dan mentadaburi alam. Kami berangkat dari Al-Ghifari menuju Darmaga dengan menggunakan motor dan membawa segala macam peralatan mulai dari galon, panggangan, tenda, nasi , dan lain-lain. Sebenarnya ribet sih hehe, bahkan rencana yang mau berangkat di ba’da ashar tertunda hingga 2 jam.

Kami berangkat dari darmaga menuju Gunung Bunder dengan menggunakan 3 motor dan1 mobil. Tidak lupa pula kami sejenak menunaikan ibadah sholat magrib di jalan agar setiap langkah ini akan bernilai ibadah aamiin. Langit semakin banyak dipenuhi bintang-bintang dan kami akhirnya sampai di lokasi dan langsung mendirikan tenda. Namun hal yang tidak diduga-duga kami bisa melihat terangnya kota Bogor dari ketinggian di malam hari, semuanya yang penuh dengan cahaya terang lampu dari setiap rumah dan jalanan. Subhanallah benar-benar indah.

Sambil mendirikan tenda sebagian yang lain langsung mencoba memangang jagung yang ada sehingga ketika selesai langsung bisa makan jagungnya deh hehehe. Jujur belum punya pengalaman masang tenda, dan diantara kami belum ada yang mahir hehehe, tapi bermodal pede alhamdulillah bisa berdiri tendanya hehehe. Setelah kami selesai makan jagung dan nasi kami langsung menunaikan ibadah sholat Isya di bawah terang bulan dan bintang. So sweet gitu hehe.





Setelah itu kami langsung melanjutkan agenda terpentingnya yaitu liqo. Diterangi lentera, hembusan angin, suara-suara serangga di malam hari, menambah keromantisan liqo kami hehe. Setelah kami liqo, kami melanjutkan agenda panggang jagungnya deh hehehe.


Hari semakin malam dan perlahan-lahan rintikan hujan mulai turun dan membahasi tenda kami menambah dinginnya malam itu, tapi subhanallah nikmat yang benar-benar indah dari-Nya.

Di pagi hari walau dingin menusuk tulang-tulang tidak membuat kami lalai dari Shubuh. Setelah shubuh kami langsung membaca al-matsurat dan sedikit berdiskusi. Ketika matahari mulai muncul ke permukaan kami segera bergegas untuk pulang  dan tidak lupa untuk sarapan dulu. Selesai sarapan langsung deh kami masuk ke acara berikutnya yaitu foto-foto hehehe. Ya setiap momen itu harus diabadikan untuk diceritakan ke anak-anak kita nanti *eh hehehe. Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk mengikuti terapi ikan. Maklum karena penasaran dan ingin merasakan sensasinya kami mencobanya deh hehe. Dengan uang 5.000 kami dapat merasakan gelitikan ikan-ikan kecil di kaki kami selama setengah jam. Katanya sih ikan itu bisa memakan toksin di tubuh kita melalui tapak kaki kita.

Ya itulah kegiatan yang tidak terlupakan pastinya untukku bersama sahabat-sahabatku luar biasa di tarbiyah ini, in my little circle. Lingkaran kecil yang berdampak besar untuk orang banyak aamiin. Semoga kita bisa melanjutkan misi dakwah ini dimanapun kita berada aamiin.
Sampai jumpa lagi kawan...


Selasa, 18 Februari 2014

Kekuatan Keyakinan



Kau takkan pernah tahu kekuatan luar biasa yang ada di dirimu jika kau tak berani melawan rasa takutmu.

Kau takkan pernah tahu kekuatan luar biasa yang ada di dirimu jika kau tak pernah yakin dengan dirimu sendiri.

Kau takkan pernah tahu kekuatan luar biasa yang ada di dirimu jika kau tak percaya bahwa dirimu terlahir dengan kekuatan yang luar biasa.

Kau takkan pernah tahu kekuatan luar biasa yang ada di dirimu jika kau hanya melihat kekuranganmu saja.

Kau takkan pernah tahu kekuatan luar biasa yang ada di dirimu jika kau selalu menyalahkan dirimu sendiri.

Kau takkan pernah tahu kekuatan luar biasa yang ada di dirimu jika kau selalu berbicara tanpa ada melakukan perbaikan.

Kau takkan pernah tahu kekuatan luar biasa yang ada di dirimu jika kau selalu merasa dirimu yang paling lemah dan pasrah dengan keadaanmu.

Apa kau yakin dengan dirimu? Apa kau yakin kau bisa melakukan suatu hal yang luar biasa?

Semua jawaban itu ada di dirimu. Tinggal dirimu yang menentukan jawaban apa yang akan kau berikan.

Aku selalu bersyukur ketika di setiap kejadian aku bisa mengambil hikmah dari sebuah kejadian dan aku selalu berharap aku bisa berbagi setiap pengalamanku dengan sahabat-sahabatku sekalipun itu hanya sedikit.

Di masa perkuliahan ini aku mengikuti olahraga bela diri yang dikhususkan untuk kami para mahasiswa PKS sebagai bekal mental dan fisik di kebun nanti yaitu merpati putih. Sudah 10 bulan aku mengikuti latihan rutin dan sudah saatnya aku mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT). Tepatnya 16 Februari 2014 UKT digelar dan akhirnya sabuk putih ini berhasil disulap menjadi merah. Hihiihi. Tapi bukan itulah yang terpenting, disini aku menemukan suatu hal yang sangat luar biasa selain mental dan fisik yang terbentuk, dan itu adalah keyakinan.





Keyakinan yang bisa merubah segalanya dan bisa menghasilkan suatu yang luar biasa. Dalam UKT ini setiap orang wajib mematahkan beton yang sudah disiapkan. Emmm, sudah pasti yang terpikirkan adalah pasti yang melakukannya adalah seseorang yang berotot, besar, dan kuat. Ternyata ada suatu hal yang bisa mengalahkan besarnya otot itu, yaitu keyakinan. Dalam mematahkan beton tahapan yang harus kita lakukan adalah mengambil ancang-ancang untuk melakukan pematahan, kuatkan kuda-kuda, pasang target yang ingin kau patahkan, tentukan titik patah yang tepat, dan yang terpenting yakinlah dengan dirimu bahwa kau bisa mematahkannya, hilangkan rasa takut akan sakit yang kau rasakan, yakin, yakin, dan yakin kau bisa mematahkannya. Itulah jurus yang bisa membuatku bisa mematahkan beton setebal itu. Memang dengan melihat fisik beton tersebut saraf-saraf kita akan mengantarkan informasi ke otak mengenai betapa tebalnya beton tersebut dan apabila kegagalan yang kita dapatkan maka tangan akan merasakan sakit yang luar biasa. Itulah tantangannya, bagaimana kita bisa mengubah pemikiran kita dari rasa takut menjadi keberanian, penuh keyakinan kalau kita bisa mematahkan beton tersebut. Jika kita berhasil membuang rasa takut itu dan kita yakin, beton itu bukanlah hal yang sulit untuk dipatahkan. Percayalah.!!

Begitu pula dengan kehidupan yang kita hadapi dan jalani. Dalam menghadapi segala macam persoalan dalam hidup ini kita harus memiliki keyakinan dalam menjalankannya, keyakinan bahwa kita bisa menyelesaikan setiap tantangan yang ada. Ancang-ancang yang diperlukan harus disiapkan, bekali dirimu dengan ilmu-ilmu yang bermanfaaat, kuatkan kuda-kudamu dalam menghadapi masalah tersebut, jangan sampai kau mudah digoyahkan walau hanya hembusan angin. Setelah kau pasang kuda-kudamu, pasang target yang ingin kau selesaikan, cobalah fokus dengan target tersebut agar kau bisa lebih maksimal menyelesaikannya. Tentukan titik dari setiap permasalahan dan rebut setiap kesempatan yang ada, jangan biarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Dan itu semua takkan berhasil jika kau gagal untuk yakin terhadap dirimu sendiri. Yakinlah dirimu mampu dan bisa. Karena keyakinan itulah yang bisa mengeluarkan kekuatan dan kemampuan yang ada di alam bawah sadar kita, dan kemampuan itu perlu diasah terus-menerus agar semakin matang dalam aplikasi kehidupan sehari-hari. Tetap semangat!! Yakinlah kau memiliki kemampuan luar biasa yang tidak pernah dibayangkan!! Buang rasa takutmu!! You can do anything if you believe yourself!!


Kamis, 13 Februari 2014

Perantauan


Sejak di SMA aku sudah punya mimpi untuk hidup merantau dan jauh dari kota kelahiranku, Medan. Ingin sekali memijakkan kaki ini di pulau Jawa untuk mencari jati diriku yang sebenarnya, merasakan manis pahitnya kehidupan, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Kemandirian, kekuatan, dan pengalaman luar biasa kuyakini akan kudapatkan jika aku bisa merantau nantinya, itulah pemikiran ketika masih duduk di bangku SMA.

Alhamdulillah setelah tamat dari SMA aku diberi kesempatan untuk bisa bersekolah di salah satu kota di pulau Jawa, Bogor. Disinilah akan kumulai perjalanan baruku, merintih karir, mencapai kesuksesan agar mereka yang telah mati-matian menghidupkanku hingga sekarang bisa bangga dengan seseorang yang bisa bermanfaat untuk orang banyak. Itulah alasanku untuk bisa berdiri di kota ini.


Aku termotivasi dari cerita-cerita orang yang terlebuh dahulu telah meraih kesuksesan dan itu dimulai dari masa perkuliahan mereka bahkan mereka dari keluarga yang kurang mampu. Bersekolah tanpa meminta bantuan orang tua, menghidupi diri sendiri dengan uang yang diraih dengan jerih payah dan dari tangan mereka sendiri. Tidak melupakan kewajiban utama mereka untuk berkuliah, mendapatkan cumlaude, menjadi mahasiswa berprestasi, mereka berhasil menghidupi diri sendiri dari beasiswa yang diperoleh, mengambil pekerjaan sampingan untuk sesuap nasi di keseharian mereka, dan bahkan menjadi seorang aktifis yang berpengaruh di kampus dan bermanfaat untuk orang banyak. Subhanallah, kenapa kita tidak bisa? Atau kita tidak mau mencobanya?

Sudah berjuta-juta, puluhan bahkan ratusan ataupun miliyar telah dihabiskan hingga aku bisa seperti ini. Tinggiku sudah melampaui kedua orang tuaku, fikiranku sudah mulai dewasa, dan itu sudah cukup bagiku untuk tidak merepotkan mereka lagi karenaku. Seharusnya akulah yang menghidupi mereka sekarang. Walau memang kenyataannya aku belum berpenghasilan cukup untuk bisa membiayai mereka setidaknya aku ingin bisa melepaskan diri dari tanggungan mereka terlebih dahulu. Maafkan aku telah merepotkan kalian selama ini. Aku sempat berfikir jika aku kuliah nanti mungkin aku bisa mengamen di malam hari dengan modal gitar dan harmonicaku untuk bisa mengenyangkan perutku nantinya daripada mesti minta ke orang tua lagi.

Aku masih ingat ketika aku harus memilih antara pilihan-pilihan yang kuhadapi ketika tamat dari SMA, beasiswa kuliah di IPB dengan tamatan D3 atau kuliah di Unibraw tanpa beasiswa dengan tamatan S1. Sangat banyak resiko dan peluang yang akan kubuang jika aku harus memilih. Namun, bagaimana pun setiap pilihan apapun itu pasti ada positive dan negativenya. Meski yang kupilih adalah IPB walaupun jujur aku masih takut kala itu karena membayangkan kehidupan kebun kelapa sawit yang belum pernah kubayangkan sebelumnya, tapi selalu saja bisikan hati ini menyemangatiku akan pilihan yang kuambil, aku tidak ingin merepotkan mereka dengan permasalahan biaya untukku belajar lagi. Sudah cukup aku merepotkan mereka dengan membiayai sekolahku dari TK selama 2 tahun, SD selama 6 tahun, SMP selama 3 tahun, dan SMA selama 3 tahun.

Kehidupan di perantauan pastilah beda dengan kehidupan sebelumnya. Yang dulunya kita selalu dekat dengan orang tua, mungkin hanya dua kali setahun, sekali setahun, ataupun sekali dalam dua tahun jika dalam dunia perantauan. Aku masih teringat ketika terbangun di pagi hari terkadang dibangunkan agar segera bergegas untuk berangkat ke sekolah, sebelumnya aku juga ditanya untuk menu sarapan apa yang aku inginkan di pagi hari, ketika selesai mandi baju sekolah sudah disetrika dengan rapi, sarapan pun sudah disediakan di meja makan. Tidak lupa pula uang jajan yang diberikan untukku. Sepulang dari sekolah makanan sudah tersedia, pakaian yang kotor kurendam di ember yang sudah tersedia tanpa harus repot-repot menyuci pakaian tersebut.

Dunia perantauan memanglah sangat berbeda dengan dunia sebelumnya, ketika di pagi hari terkadang jika kita telat bangun akan dibangunkan oleh orang tua, sekarang harus membiasakan diri untuk bangun sendiri, ketika ingin sarapan kita harus menyiapkan sendiri, masak nasi di malam hari terlebih dahulu ataupun membeli sarapan di luar sendiri. Ketika ingin berangkat sudah memastikan pakaian yang akan dikenakan sudah disetrika dengan rapi jika belum maka pagi itu juga harus menyetrika pakaian yang akan dikenakan. Di pagi hari itu pula terkadang kita harus menyuci pakaian kita yang kotor. Ketika pulang dari kampus makanan tidak tersedia di meja makan sehingga kita sendiri lah yang harus menyiapkannya. Dunia perantauan memang benar-benar berbeda, kita dituntut untuk bisa mandiri.

Teringat di awal masa perantauan, kala itu aku benar-benar tidak bisa memasak nasi, menyuci pakaian, dan menyetrikanya. Mungkin akan menimbulkan sedikit tawaan kecil jika mengingat hal itu. Dengan uang yang pas-pasan yang kuperoleh dari perusahaan yang memberikan beasiswa untukku, aku diuji untuk bisa memanage sebaik mungkin agar uang tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhanku. Aku berusaha untuk masak sendiri untuk menghemat biaya apalagi disini biaya makan sangat lah mahal. Hingga aku membeli rice cooker untuk memasak nasi bahkan aku menanam sayur-sayuran di depan rumah kosanku untuk lauknya. Awal-awal aku pun harus bertanya ke teman kosan untuk mengetahui cara memasak nasi yang benar. Hehehe rasa malu dibuang dulu deh, karena jujur aku belum pernah memasak nasi sebelumnya. Menanam sayuran tanpa pengalaman khusus hingga tanaman itu tumbuh dan aku pun memasaknya pun tanpa pengalaman tertentu hingga aku bertanya kepada mama bagaimana cara memasaknya hehehe maklum baru awal.

Untuk menyuci pakaian pun aku berusaha mengintip temanku yang sedang menyuci bagaimana cara dan tahapannya untuk menyuci pakaian. Karena waktu itu aku benar-benar bingung ada sabun yang bentuk serbuk dan ada yang bentuk cream, apa bedanya? Itulah yang ada di benakku. Hehehe ya karena aku malu untuk bertanya terpaksa deh mengintip saja untuk mengetahui caranya. Aku juga teringat ketika dulunya aku begitu mudah membuat pakaianku kotor dan mengganti begitu saja tanpa merasakan sulitnya menyuci pakaian itu. Alhamdulillah sekarang aku pun merasakan bagaimana rasa melihat pakaian kotor yang sangat banyak. Mama selalu mengingatkanku agar tidak bermain kotor ketika aku menggunakan pakaian putih, tapi tetap saja kulakukan. Sekarang pun aku merasakan sulitnya, maafkan aku ma.

Setelah pakaian telah dicuci aku sempat bingung bagaimana cara menyetrikanya, sempat aku mencoba sendiri untuk menyetrika pakaianku tapi gagal mulu, setiap aku menyetrika selalu saja ada bagian yang kusut. Terpaksa deh sekali lagi aku membuang rasa maluku untuk meminta temanku untuk mengajarkanku bagaiman cara menyetrika yang baik hehehe.Aku juga tidak ingin laundry pakaianku, alasannya agar aku bisa lebih menghargai uang, belajar untuk bersih, dan lebih mandiri.

Alhamdulillah sudah satu tahun lebih aku hidup di perantauan ini, merasakan lebaran tanpa orang tua, bangun sendiri, masak sendiri, mencuci pakaian sendiri, menyetrika, dan segala sesuatunya sudah kulakukan sendiri. Aku selalu diajarkan bagaimana untuk selalu hidup bersih dan rapi. Walaupun dulunya sering dimarahin gara-gara aku jarang membersihkan motor, sepatu, dan kamarku sendiri, hingga aku diomeli terlebih dahulu baru aku membersihkannya dan sekarang aku tahu manfaatnya. Sungguh benar-benar perjalanan spiritual yang membuatku menghargai uang, membuatku lebih dewasa, mengerti orang lain, mandiri, dan lain-lain. Perantauan memang hidup yang sulit tapi akan indah pada waktunya. Ada misi berikutnya yang harus kuhadapi dan kita hadapi setelah melalui masa ini. Setelah berhasil memenuhi kebutuhan diri sendiri selama kuliah ini, aku ingin memenuhi kebutuhan orang tuaku sehingga mereka tidak perlu bekerja lagi. Mudah-mudahan impian itu akan tercapai aamiin. Dunia kerja sudah menanti. Bismillah. Allah Selalu Bersama Kita.