Kamis, 18 Oktober 2018

Yuna's First Birthday

Barakallah Yuna bidadari kecil kami.. 

Alhamdulillah sudah 1 tahun sejak 17-10-2017 dirimu hadir di keluarga ini dengan izin Allah. Semoga kami, Abi-Ummi bisa menjaga amanah sebaik mungkin. Flashback setahun lalu, maafin abi ya ummi, gak bisa nemenin ketika lahiran, baru hadir setelah 5 jam pasca lahiran akibat diluar prediksi jadwal kehamilannya. Tapi alhamdulillah saat itu sedang dinas di Jakarta, jadi bisa langsung luncuran ke Sukabumi. 







Setelah kelahiran Yuna, abi juga cuman bisa nemenin ummi dan yuna selama 2 minggu di Sukabumi, karena kerjaan di ujung Borneo yang tak mungkin ditinggalkan. 

"Kenapa tidak lahiran di Kalimantan??" 

Mungkin ada yang bertanya seperti itu hehehe, tapi sulit menjawabnya secara detail. Mungkin kami sebagai orang tua ingin segala proses persalinan sebelum maupun sesudah bisa yang terbaik untuk si kecil. Maklum saat ini Abinya masih jadi pelosokers hehehe. Ketemu Yuna kembali saat usianya sudah 5 bulan. Sakit banget rasanya pisah sama si kecil, cuman bisa dikirimin foto-foto dari sang ummi, mau video call pun harus mencari sinyal diatas bukit (tersiksa dengan sinyal), #cirigenerasimillenialhehehe 

Alhamdulillah usia 5 bulan Yuna udah diajak jalan ke Medan dan langsung terbang ke tanah Borneo untuk menemani Abinya yang kena penyakit malarindu. Besarin Yuna bukan perkara yang mudah, terimakasih buat ummi yang sangat sangat sangat luar biasa ngerawat yuna, kadang terharu banget Abi, Abinya gak ada apa-apanya dibandingkan Ummi. Semoga Allah balas dengan sebaik-baik amalan ke Ummi. Sedih kadang, bahkan sering, hadirnya Yuna membuat kami terkadang lalai bahkan menjauh dari Allah. Astaghfirullah. Harus lebih banyak belajar lagi kitanya ummi. Kadang emosi juga tak terelakkan, sesekali kami kesal dengan Yuna yang nangisnya gak bisa berhenti, maafin abi ummi ya yun. 

Sekarang sudah 1 tahun Yuna, alhamdulillah semakin banyak bisanya, semoga semakin sholehah ya nak, semoga semakin meningkat pula perbaikan diri Abi Ummi untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Aamiin. 17-10-2018


Rabu, 14 Maret 2018

Jarak

Kenapa bisa bertahan dengan jarak untuk waktu yang lama??

Karena sungguh jarak ini layaknya bumbu pemanis cinta kami berdua..

Terus kalian mau lebih lama pisah, supaya cinta kalian makin romantis gitu??

Engak dong, kalau jarak yang lebih dekat itu bumbunya extra manis-manis super duper manis, jadi aku milihnya tetep jarak yang deket dengan pasangan hehe

INTINY ITU SIH TINGGAL BAGAIMANA KITA MENTRANSFERKAN MASALAH ATAU BUKAN MASALAH TETAP MENJADI BUMBU CINTA DI KEHIDUPAN KITA..


Senin, 12 Maret 2018

Do That You Wanna Do

Don't do that you look people do, but do that you wanna do..

Kebanyakan orang zaman sekarang melakukan segala sesuatunya melihat apa yang kebanyakan orang lakukan. Mungkin secara tidak langsung kitapun si pembaca bahkan penulis juga seperti itu. Terkadang orang hanya sekedar mengikuti apa yang terjadi saat ini, atau kadang disebut terbawa arus. Awalnya dia akan mengikuti arus tersebut, namun kelamaan dia akan terjebak dalam arus tersebut. Kenapa?? Karena dia tak mampu berenang dalam air. Lalu kenapa ia ikut terjun di dalam air?? Karena dia melihat semua orang terjun dalam air.

Ya seperti itulah kita saat ini, kita melakukan segala sesuatunya karena melihat banyaknya orang yang melakukan hal tersebut, walaupun kita sadar kita tidak ingin dan tidak bisa melakukannya. Stop what you don't wanna do but do everything that you wanna do.



Jalan Lurus

Perjalanan lurus tak selamanya terasa aman, karena yang lurus terkadang membuat si supir merasa ngantuk dan kurangnya fokus, bahkan terkadang ia lupa bahwa jalan yang lurus juga memiliki lubang-lubang yang sama seperti jalan lainnya.


Minggu, 11 Maret 2018

Sebuah Pernikahan

Pernikahan memerlukan kedewasaan dan tanggung jawab yang lebih.

Lebih dari sekedar kemampuanmu dalam berorganisasi. Kemampuanmu untuk bekerja dan menghasilkan uang. Kemampuanmu dalam menjalankan seluruh ibadah dan amalan.

Sebab itulah ia bernilai setengah agama dalam pandangan islam. Sebab, besarnya nilai urusan-urusan yang ada di dalam pernikahan.

Kalau bukan karena rahmat Allah SWT. Tentu kita akan terasa berat menjalaninya. Dan bersyukurlah sebab atas karuniaNya, kita bisa merasa siap dan cukup untuk memulainya.

Dan tentu saja, memulai tidak lebih berat dari mempertahankannya.

Sabtu, 24 Februari 2018

Futur Pasca Menikah

             
Fulanah merasa penat dan gelisah. Setahun menalani kehidupan rumah tangga tenyata terasa berat baginya. Pekerjaan rumah yang menumpuk dari mulai menyapu, mengepel, mencuci piring dan pakaian, menyeterika baju, memasak dan yang lainnya, harus ia kerjakan setiap hari tanpa libur atau cuti. Apalagi sebulan setelah akad dan walimah, dirinya positif berbadan dua. Hari-hari masa kehamilan diwarnai dengan mual muntah, nyeri punggung, kram kaki dan ‘kebiasaan-kebiasaan’ yang menggejala bagi ibu hamil pun ia lalui.   Pasca melahirkan, kesibukannya pun bertambah dengan kehadiran si bayi mungil. Dengan masih melekatnya pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sebelumnya, praktis 24 jam waktu yang ia miliki seolah masih sangat kurang. Semakin seabreg rasanya aktivitas harian. Sebenarnya, suami kadang membantu sebagian pekerjan itu meski tak banyak. Suaminya memang tak banyak ia harapkan karena harus membanting tulang mencari nafkah dan sibuk dengan aktivitas dakwah, bahkan tak jarang harus pergi ke luar kota.  

                Rutinitas monoton yang ia jalani saban hari membuat fisiknya layu dan jiwanya kering. Karena jangankan untuk hadir di taklim-taklim penyubur iman dan ilmu, mushaf Qur’an miliknya pun sudah lama tak tersentuh.

                Kondisi demikian memang kerap kita temui. Karena kesibukan setelah menikah apalagi ditambah punya momongan, seorang akhwat yang dulunya rajin ngaji, semangat taklim, dan rakus dengan ibadah sunnah, berguguran justru di ‘medan’ mereka yang sesungguhnya. Pernikahan yang harusnya menjadi penggenap setengah dinnya, justru menjadi kuburan bagi amal yauminya. Dengan alasan sibuk berkutat dalam pekerjaan domestik, ibadah tak lebih sekedar sholat lima waktu dengan sisa waktu dan tenaga.
Hadirkan Hati
                Pada dasarnya, seluruh pekerjaan rumah tangga yang melelahkan adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Namun, seringkali hal ini kurang disadari dan dimaknai secara mendalam. Dengan demikian, kita harus berusaha agar selalu menyadari bahwa aktivitas harian kita yang padat dengan pekerjaan rumah tangga adalah ibadah, dan niatkanlah untuk ibadah. Kesadaran itu penting, karena itulah yang membedakan satu  pekerjaan dari hanya sekedar rutin menjadi ibadah. Kata Ibnu Qayyim, ”Orang yang selalu sadar (untuk beribadah) maka pekerjaan rutinnya ibadah, sedangkan orang yang lupa dan lalai maka ibadahnya pun baginya merupakan hal rutin dan kebiasaan saja”.

                Lakukanlah tugas-tugas kerumahtanggaan dengan penuh kerelaan, kelapangan hati dan penuh kesadaran bahwa hal itu merupakan ibadah kepada Allah. Hadirkan selalu hati kita dalam melakukan pekerjaan tersebut. Tanpa kehadiran hati, fisik yang bekerja tak ubahnya robot yang mekanis.
                Kita nikmati saja rutinitas harian kita, karena peran yang kita jalani adalah sebuah anugerah dari Allah yang tidak diberikan pada semua orang. Menjalani peran-peran dengan penuh rasa syukur akan membantu kita menemukan kebahagiaan. Menikmati waktu-waktu kita di rumah tanpa terjebak pada kebisingan dan hiruk pikuk dunia luar, menikmati waktu kita memasak dengan variasi menu dan menata rumah secara artistik, menikmati becengkerama dengan anak-anak dan bermain bersama mereka, semuanya akan menambah keindahan hidup kita.

                Apa-apa yang kita alami dalam letihnya ‘bekerja di rumah’, pada dasarnya juga dialami oleh seluruh ibu rumah tangga lainnya. Mereka mungkin justru lebih payah karena jumlah anaknya lebih banyak, kondisi ekonomi yang kurang baik dibanding kita, atau hal-hal lain yang menunjukkan lebih baiknya keadaan kita dibanding mereka. Jadi santai saja, tak perlu merasa bahwa kita adalah ibu rumah tangga yang ‘diperbudak’ oleh pekerjaan rumah tangga dan kita terjebak di dalamnya. Faktanya, banyak ibu rumah tangga yang menjalaninya dengan baik kok!

                Kisah Fathimah binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam harusnya menjadi renungan bagi kita. Ia menggiling gandum sendiri untuk membuat kue hingga membekas tebal di kedua tangannya (kapalan). Bayangkanlah bagaimana seorang putri Nabi dan istri seorang shahabat yang mulia, harus menggiling, membuat adonan roti dan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya.

                Suatu ketika ia meminta pembantu kepada sang Ayahanda untuk meringankan pekerjaannya. Sang Ayah pun memberikan yang lebih baik bagi putrinya. “Maukah aku tunjukkan yang lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu? Bila kalian berdua hendak berbaring di tempat tidur kalian, bertakbirlah 34 kali, bertahmidlah 33 kali dan bertasbihlah 33 kali. Maka yang demikian itu lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian minta.”

                Inilah wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi putrinya tercinta, Fathimah, seorang pemmpin para wanita penghuni surga. Ketika ia bermaksud meminta seorang pembantu untuk meringankan pekerjaannya kepada Ayahandanya. Bukan pembantu yang Ayahnya berikan, melainkan dzikir yang menenangkan hati dan pikiran.
Siasati dengan baik
                Di sela-sela kesibukan kita, masih banyak peluang untuk menjaring amal ibadah yang bisa menjadi energi untuk mengidupkan ruhiyah dan memberikan asupan bergizi bagi jiwa. Priortaskan yang wajib, baru yang sunnah. Maksimalkan kualitas sholat lima waktu dengan khusyu’. Ibarat mandi lima kali sehari, sholat menjadi penyegar jiwa kita sehari-harinya. Jika sholat fardhu ini bisa dilaksanakan dengan kualtas yang baik, insya Allah efeknya luar biasa pada diri kita.

                 Diantara yang bisa kita lakukan lainnya adalah dengan memanfaatkan sepertiga malam terakhir untuk qiyamul lail, tilawah, dzikir dan muhasabah. Jadikan waktu-waktu ini sebagai “me time” (waktu khusus untuk diri kita). Bisa juga dengan bersama-sama suami. Tentunya, jika suami tidak menghendaki ‘acara malam’ lain berdua.

                Jika merasa berat, kerjakan sedikit-sedikit tetapi rutin. Karena sesunguhnya amalan yang sedikit tapi kontinyu (terus menerus/rutin) itu lebih disukai Allah. Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim). Sempatkan pula sholat dhuha meski hanya dua rakaat. Selain berpahala, sholat dhuha akan menjadi sarana penenang hati yang efektif di tengah kesibukan. Pun jika memungkinkan, upayakan untuk menambah sholat fardhu dengan nafilah. Toh, nambah dua rakaat tak lebih dari 10 menit. Anak rewel? Okelah, tapi  tak setiap sholat anak pasti rewel kan? Sesuaikan saja dengan kondisi yang ada. Allah paling Tahu kok apakah kita benar-benar berudzur atau hanya beralasan saja.

                Sambil menyelam minum air. Hal ini juga bisa kita terapkan dengan mendengarkan murottal dan ceramah sambil beraktivitas. Asalkan, memang benar-benar didengar dan diperhatikan. Karena jika al-Qur’an dibaca, maka kita harus mendengar dan memperhatikannya dengan baik, bukan sambil lalu. Begitu juga dengan dengan dzikir, tentu bisa kita lakukan dengan menyambi melakukan sesuatu.

                Bagaimanapun, tarbiyah diri kita juga merupakan tanggung jawab suami. Bicarakan dengan suami untuk meluangkan waktu—bakda subuh misalnya—setiap sepekan sekali untuk bermajelis berdua dan memberikan taushiyah maupun taklim kepada kita. Termasuk pula, membicarakan kesempatan bagi kita untuk hadir di majelis taklim yang ada diluar.

                Sebuah hal yang lumrah dan wajar jika kita merasa lelah, jenuh, bosan, dan sebagainya. Yang penting, segera atasi perasaan tersebut dan tidak berlama-lama dibuai olehnya. Sejatinya, medan rumah tangga adalah medan tempur yang sebenarnya bagi akhawat. Disinilah tahapan yang menguji kualitas diri dan konsistensi yang dimiliki. Disinilah pertarungan yang sesungguhnya. Justru ketika menjadi istri, menjadi ibu. Petaruhan sebuah keistiqamahan. Mari kita jawab tantangan ini. Futur setelah menikah? No Way! (biidznillah..)

Repost: http://ishlah.blogspot.co.id/2013/10/futur-setelah-menikah.html





Para Penggemban Dakwah

Jumat kemarin, 23-02-2018 kami melakukan kunjungan ke salah satu perkebunan kelapa sawit di perbatasan Indonesia-Malaysia. Ya tempat tinggal kami juga tidak terlalu jauh dari daerah tersebut, berkisar kurang lebih perjalanan darat (menggunakan mobil/motor) 1 jam.

Saat itu kami akan melakukan ibadah sholat Jumat di pemukiman warga (Pondok). Ada hal yang sangat mengetuk hati saya mudah-mudahan teman-teman yang lain juga seperti itu. Ketika adzan selesai berkumandang, disaat seorang khatib harusnya naik ke atas mimbar, jamaah malah saling melihat satu sama lain, saling menunjuk untuk meminta naik ke atas mimbar. Kurang lebih 30 detik seisi mesjid saling menoleh dan melihat satu sama lain.

Astaghfirullah, bahkan saya tidak memberanikan diri untuk bisa maju untuk naik ke atas mimbar, saya coba otak atik hp saya berharap ada materi yang bisa saya bawa karena beberapa minggu sebelumnya saya sempat mengisi khutbah, namun tidak terlihat materinya, dan saya merasa tidak mampu tanpa adanya materi itu,padahal kita seharusnya sebagai pengemban dakwah selalu siap kapanpun dan dimanapun untuk bisa meneruskan dakwah ini walau kita masih tergolong muda. Astaghfirullah inilah potret Islam di daerah terpencil yang harusnya jadi pelajaran untuk saya dan kita semua. Kita bisa saja begitu aktif di dunia kampus dalam dakwah, tapi dunia pasca kampus adalah dunia dakwah sebenarnya.

Mudah-mudahan kita sebagai pengemban dakwah ini, penerus dakwah ini tidak menganggap sholat jumat hanyalah sekedar rutinitas biasa. Pergi ke masjid lalu pulang tanpa membawa apapun, atau malah karena malu dilihat oleh teman yang lain kita tidak melakukan sholat jumat.

Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Semoga cerita singkat ini bisa menjadi pelajaran buat kita semua. Aamiin.

Sungai Biru Estate, 23 Februari 2018.