Sabtu, 12 Juli 2014

Musa, Bocah Penghafal Qur'an Yang Berusia 5,5 Tahun

Sebuah program 'Hafidz Indonesia' yang disiarkan langsung oleh salah satu stasiun televisi swasta menampilkan berbagai hafidz dan hafidzah (penghafal Alquran) yang mayoritas adalah anak-anak.
Dalam sebuah sesi kontes Hafidz Indonesia yang disiarkan pada hari Minggu (29/6/2014), pihak penyelenggara menampilkan dua bocah Hafidz yakni Adi dan Musa. Acara yang dipandu oleh presenter kondag Irfan Hakim ini mulanya tampak biasa. 


Mula-mula Irfan melakukan sesi wawancara kecil kepada Adi tentang jumlah adik kandung yang dimilikinya, setelah itu ia mencoba senggol soal jumlah Juz Alquran yang telah dihafal oleh Adi. Anak penghafal Al-Quran yang tampil 'centil' itu mengatakan bahwa dirinya menghafal 9 Juz. Namun saat dikonfirmasi, Ibu kandung Adi yang tengah duduk di kursi penonton menklarifikasi bahwa Adi hafal 2 Juz, sedangkan 9 Juz tersebut adalah cita-cita Adi.

Suasana ruangan siaran pun mendadak berubah setelah Irfan Hakim mencoba bertanya kepada Musa. Kontestan asal Bangka yang baru berusia 5,5 tahun itu mengaku telah menghafal Al-Quran hingga 29 Juz. Lagi-lagi upaya konfirmasi Irfan berlanjut yang dibenarkan oleh ayah kandung Musa yang juga berada di kursi penonton.

Tercengang dengan pengakuan Musa, Irfan Hakim pun meminta kepada dewan juri untuk melakukan tes hafalan kepad Musa. Tester pertama dilakukan oleh Syeikh Ali Jaber sebagai dewan juri. 

Saat menguji Musa, Ulama asal Arab Saudi itu membacakan Surat Al-Baqarah. Bacaan Syeikh Ali pun dilanjutkan dengan lancar oleh Musa. Tak puas dengan test pertama, Irfan pun mempersilahkan kepada juri lainnya yakni Ustadz Amir Faishol Fath untuk ikut menguji hafalan Musa. Ustadz Amir pun membacakan sebuah ayat dari surat Ar-Rahman dan lagi-lagi surat tersebut dilanjutkan dengan mudah oleh Musa.

Ternyata Irfan pun tak puas dengan uji coba hanya dua kali. Beberapa penonton pun diminta untuk ikut membuktikan kehebatan hafalan Al-Quran Musa. Dua penonton yang mengajukan surat Al-Baqarah dan Surat Muhammad, bacaan dua surat tersebut pun mampu dilanjutkan dengan fasih oleh Musa.

Setelah membuktikan kehebatan hafalan Musa, beberapa penonton dan juga dewan juri pun tak sanggup menahan air mata melihat fenomena yang ada di hadapan mata mereka. Betapa hebatnya Musa yang sanggup menghafal Al-Quran hingga 29 Juz dalam usianya yang ke 5,5 tahun.

Haru melihat Musa, Ustadz Amir Fasihol pun hingga menangis dan mendatangi Musa di depan panggung sambil mencium tangan Musa. Insiden yang sangat jarang terjadi dalam ajang kontes Hafidz Indonesia itu. 

Tak ketinggalan pula, Ustadz Amir juga menyempatkan diri memberikan tausiyah kepada para pemirsa. Dalam tausiyahnya itu, Ustadz Amir mengumpamakan Musa dengan sebuah uang kertas senilai Rp. 100.000. Dengan uang kertas tersebut, Ustadz Amir menganalogikan sebuah bentuk dan nilai. Uang kertas itu tidak ada apa-apanya, tidak berarti bahkan saat diinjak sekalipun, namun kertas tersebut tetap akan berharga karena nilai yang terkandung pada uang tersebut.

Dalam sesi terakhir pada sekmen tersebut, Syeikh Ali Jaber pun mambacakan sebuah surat Al-Qamar dengan arti "Kami telah memudahkan Al-Quran untuk dipelajari".


Jadwalnya Musa si "Hafizh kecil" (5,5 tahun) sehari-hari?


Berikut jadwal Musa menghafal dan muraja'ah hafalan Al-Qur'an:Musa sekarang (beda ketika awal-awal) jam 02. 30 pagi sudah bangun kemudian wudhu dan langsung murojaah depan saya sampai jam 04.00 pagi.
Kemudian menambah hafalan barunya dan mnstorkannya sampai adzan Shubuh berkumandang. Kemudian berhenti untuk shalat. Selesai shalat langsung tambah hafalan dan berhenti sampai jam 07.30 pagi kemudian istirahat (untuk sarapan, minum, dan main) sampai jam 08.30.

Kemudian murojaah sampai jam 10.00 atau 10.30 (dilihat maju mundurnya waktu shalat). Jam 10.00 atau 10.30 wajib tidur sampai adzan zhuhur berkumandang kemudian ke masjid.

Setelah shalat, tambah hafalan baru dan berhenti sampai jam 13.30 siang kemudian istirahat dan makan siang sampai jam 14.00 siang.
Kemudian murojaah sampai 'Ashr. Setelah 'Ashr, tambah hafalan baru dan murojaah sampai jam 17.00 sore. Kemudian main sebentar dan umumnya menyiapkan untuk pergi ke mesjid shalat Magrib.

Setelah magrib murojaah sampai Isya dan makan malemnya setelah shalat Isya. Terkadang murojaah sampai mendekati waktu Isya dan langsung makan sore. Setelah shalat Isya harus tidur.
Tiap 4 atau 5 hari ada liburnya. Di hari libur tersebut, Musa full bermain.

dari Abu Musa dengan sedikit perbaikan kalimat...

semoga bisa menginspirasi para bapak ibu untuk mendidik anak2nya menjadi hafizhul qur'an...





Jumat, 13 Juni 2014

A Special Gift For You Dad

Alhamdulillah hari ini adalah hari yang bahagia buatku. 13 Juni 2014 merupakan hari kelahiran seorang yang sangat berarti. Ia yang selalu mendukung setiap kegiatan yang kulakukan. Ia yang telah kerja banting tulang hingga aku tumbuh sebesar ini. Aku tak tau berapa tetes keringat yang ia keluarkan hanya untuk membahagiakan kami sekeluarga.

Mungkin ia seorang yang terlihat acuh dibandingkan dengan seorang ibu. Mungkin ibu lebih sering menanyakan kabarku dan selalu khawatir akan anaknya yang jauh dari pelukannya, tapi sebenarnya selalu ada ia yang mengingatkan ibu untuk menanyakan kabar buah hatinya.

Aku teringat ketika seorang ibu begitu perhatian melihat anaknya yang begitu lelah sehingga membantunya untuk tidur, tapi harus kita tau pula sepulang ia kerja, ia selalu menanyakan kabar dan apa yang telah dilakukan anaknya seharian ini dibalik kelelahannya.

Sungguh kasih sayangnya mungkin tak kalah dibandingkan dengan seorang ibu, ia mungkin lebih memilih tidak menunjukan kasih sayangnya. Mungkin begitulah pemikiran seorang laki-laki yang begitu malu untuk menunjukkan semuanya.

Pa, sungguh aku sangat mencintaimu dan aku pun mungkin sama sepertimu, sulit untuk mengungkapkan rasa sayang ini ataupun menunjukkan perhatianku padamu. Tahukah papa kalau disinipun kadang aku meneteskan air mata melihat dirimu yang tetap bekerja keras walau rambut putih telah memenuhi kepalamu. Aku tahu kalau kau tetap ingin memberikanku sesuatu yang kusuka walau aku telah melarangnya bahkan hutang yang kau miliki tak menghentikanmu untuk mewujudkan apa yang kuinginkan.

Aku pun begitu sedih ketika mengetahui banyaknya masalahmu walau kau tak pernah menunjukkannya padaku. Sungguh aku benar-benar tidak tau bagaimana menunjukkan kasih sayangku padamu. Aku pun sedih ketika kau merasakan kesedihan itu. Ketika kau sedang dalam keadaan sakit aku juga merasa khawatir padamu walau aku tak menunjukkannya.

Selama ini kau hanya pernah marah satu kali di depanku hanya karena aku menginginkan buah manggis tapi kau tak mengizinkannya. Aku masih ingat hari itu hingga sekarang walau saat itu aku masih kelas 4 SD. Sungguh aku menyesal ketika aku malah merajuk hingga tak mau berbicara denganmu selama beberapa hari. Padahal itu adalah bentuk perhatianmu. Mungkin karena itu pula kau tak pernah marah lagi kepadaku langsung, jika pun kau tak menyukai apa yang kulakukan pasti kau menyampaikannya kepada mama. I’m sorry for that pa..

Hari ini adalah hari ulang tahunmu, sungguh aku ingin kau tetap punya semangat dalam menghadapi setiap masalah yang kau alami, aku ingin kau bisa melihatku sukses dan bisa memenuhi keinginan-keinginanmu tanpa membuatmu kesusahan. Aku tak tau apa yang bisa kuberikan dalam hari ulang tahunmu kali ini. Aku ingin memberikan sesuatu yang berbeda di hari ulang tahunmu ini.

Mungkin aku bukanlah seorang hafidz Qur’an yang akan memberikan mahkota emas kepadamu nantinya di surga, satu bulan yang lalu aku berniat untuk menghafal Surat Ar-Rahman sebagai hadiahku untukmu. Alhamdulillah hari ini aku berhasil menyelesaikan hafalanku. Hadiah ini bukanlah sesuatu yang kubeli dengan banyak uang, hadiah ini bukanlah sesuatu yang bisa kau pakai atau kau gunakan dalam keseharianmu, hadiah ini adalah bentuk doaku padamu. Aku berharap dengan surat Ar-Rahman yang kuhafal, hatimu bisa terketuk untuk mencintai Islam, aku selalu berdoa untuk itu walau aku tak tau kapan waktu itu akan datang. Terimakasih buat Aldi yang telah memotivasiku dan menemaniku menghafal surat ini, Alhamdulillah kita berhasil kawan. Ya Allah ya Rahman ya Rohim semoga hadiah ini sampai kepadanya walau dia tak tau hadiah yang kuberikan dan semoga Kau mengabulkan doa-doaku ini. Aamiin ya Rab..

Kamis, 29 Mei 2014

Merekalah Obor Semangatku Disini

Alhamdulillah sudah hampir 2 bulan terlewati petualangan di kebun ini. Beginilah kehidupan kebun jika aku ditanya, sulit dari sinyal, jauh dari keramaian, dan jauh dari kota bahkan jalan raya.

Jadi apa tidak bosan jul? Emm pasti ada masanya bosan sih sebenarnya hehehe. Betah jul? Ya dibetah-betahin lah walaupun gak betah hehehe. Tapi Alhamdulillah selain bedanya dunia yang kuhadapi sekarang, aku punya penyemangat disini, merekalah yang bisa membuatku melepaskan kepenatan di kebun, tempatku bercerita dan tertawa. Ya mereka adalah anak-anak yang kutemui di mesjid yang ada disini.

Mungkin mereka sudah ditakdirkan bertemu denganku kali ya hehehe. Suatu hal yang tidak terduga ketika aku menyelesaikan tilawahku di ODOJ waktu itu, mereka mendatangiku merasa ada orang baru dan aneh. Mencoba berkenalan denganku, bercerita, hingga lama kelamaan mereka memintaku untuk mengajari mereka mengaji di saat Pak Ustadz berhalangan hadir waktu itu.  Jujur sebenarnya aku masih belum merasa pantas untuk berbagi ilmu mengenai ayat-ayatNya, tapi disini pula aku belajar memantaskan diri untuk bisa berdakwah dengan membaca dan mengajarkan ayat-ayatMu ya Allah.

Ketika kuliah aku sempat berfikir untuk menjadi seorang guru sambil menambah pemasukanku untuk makan sehari-hari, namun hal tersebut tidak tercapai karena banyak hal. Aku benar-benar ingin menjadi seorang guru kala itu untuk bisa berbagi ilmu dan juga menambah ilmu sendiri. Karena cara paling mudah untuk menambah ilmu adalah berbagi ilmu. Namun, kegagalanku kala itu dibalas oleh Allah disini, bukan sebagai seorang guru yang mengajarkan muridnya untuk bisa lulus ujian, UN atau SNMPTN, tapi Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk mengajarkan sesuatu yang lebih disukai olehNya, Alhamdulillah, semoga kesempatan ini bisa dimaksimalkan sebaiknya bukan semata untuk uang di dunia, tapi pahala di akhirat. J

Aku sangat bersyukur telah masuk ke jalan dakwah ini, mungkin aku bukanlah orang yang mendapatkan sekolah khusus ataupun belajar intensif dalam mengaji seperti anak yang lain. Bahkan ketika SMA pun bacaanku masih belepotan. Buta huruf Qur’an di masa laluku takkan kubiarkan terjadi untuk mereka. Mereka punya kesempatan dan aku akan beri mereka semuanya agar bisa memanfaatkan kesempatan itu.

Belajar bersama mereka, bercerita, mengajarkan sesuatu yang membuat mereka tertarik akan Islam, Alhamdulillah mereka pun mulai menerimaku dan aku benar-benar merasa diterima disini.

Jika ditanya seneng tidak disana? Sungguh aku merasa senang karena mereka. Aku selalu menanti sholat magrib untuk bisa bertemu mereka, malah aku merasa sedih ketika datang malam Jumat, karena malam itu dipastikan aku tidak bertemu dengan mereka karena mereka libur mengaji di malam Jumat hehehe. Pokoknya waktu yang selalu kunanti selain jam main bola, adalah mengaji dengan mereka. Benar-benar aku senang bisa menjadi guru ngaji untuk mereka, sekalian persiapan untuk ngajar ngaji kalo udah punya, *eh hehehehe. Maklum terlalu terobsesi. Tapi sebenarnya guru ngaji terbaik bagi seorang anak adalah ayahnya sendiri loh, jadi untuk calon ayah harus belajar ngaji tanpa kenal umur supaya bisa ngajar anaknya nanti.

Suatu hal yang sangat membuatku sayang dengan mereka adalah semangat belajar mereka. Ada yang ingin jadi dokter, seorang santri, pilot, guru bahkan ada yang berkata padaku bahwa cita-citanya adalah seorang hafidz Qur’an subhanallah. Seketika aku merinding ketika mendengar pernyataannya. Seorang anak sudah berfikir untuk menjadi seorang hafidz yang lebih mulia di mata Allah dibandingkan profesi lain. Semoga impian mereka semua bisa tercapai dan bisa tetap menyeru akan kebaikan dengan agamaMu ini ya Allah.

Alda, Darwin yang paling kecil dan paling akrab samaku dan paling kusayang, Esti dan Diah yang kemana-kemana selalu bareng semoga tercapai keinginnya untuk masuk pesantren dan jadi guru ya, Desi yang paling pendiam, Susi dan Manda yang paling cerewet, awas kalo tinggal kelas lagi ya dek, Remo yang paling mahir masalah jenis-jenis awan, semoga tercapai keinginannya  jadi pilot ya, Tasya, Afta, Yoga, dan yang lainnya semoga kita bisa bertemu nantinya, dan tidak lupa Wahyu, semoga tercapai keinginannya menjadi seorang Hafidz Qur’an yang akan menyematkan mahkota kepada orang tuanya kelak di surga. Aamiin.


Mungkin nantinya kalian akan jadi orang-orang yang tidak akan kulupakan ketika aku kembali ke Bogor, semoga begitu juga dengan kalian. Terimakasih atas waktu dan pelajaran hidup luar biasa yang kalian berikan.



Seorang Asisten


Seorang asisten adalah seorang satpam di kebunnya.
Seorang asisten adalah kepala desa bagi karyawannya.
Seorang asisten adalah teladan bagi karyawannya.
Seorang asisten adalah tempat curahan hati lingkungan sekitarnya.
Seorang asisten adalah penengah dalam setiap masalah yang terjadi.

Seorang asisten seperti seorang satpam yang harus siap siaga menanggapi kejadian yang terjadi di kebunnya, baik pagi, siang, malam, ataupun saat kita terlelap tidur. Kita harus mampu hadir dalam setiap kejadian yang terjadi. Kemalingan, kebakaran, seorang ibu yang ingin melahirkan di kebun, atau seorang yang mengalami kecelakaan di malam hari, kita harus bangun dan langsung menyiapkan ambulance untuknnya jika tidak mungkin nyawa atau harapan orang akan berakhir karena ketidak sigapan kita.

Seorang asisten adalah kepala desa bagi karyawannya yang mampu mewujudkan keinginan dan harapan dari warganya. Kita harus pula memberikan mereka kenyamanan tempat tinggal. Fasilitas kebun harus kita berikan semaksimal mungkin. Sarana olahraga, klinik, air, listrik, dan lain-lain adalah tanggung jawab seorang asisten. Secara tidak langsung kita adalah pelayan pula bagi mereka.

Seorang asisten adalah teladan bagi karyawannya yang sikapnya menjadi contoh dan panutan bagi yang lainnya. Bagaimana seorang bawahan bisa teratur jika atasannya saja tidak bisa diatur, bagaimana seorang bawahan bisa bersikap sopan jika atassannya saja tak mampu bersikap sopan di depan bawahannya. Setiap tindakan kita akan menjadi penilaian bagi mereka, sekecil apapun tindakan kita itu.

Seorang asisten adalah tempat curahan hati lingkungan sekitarnya, segala keluhan yang dirasakan oleh karyawan akan disampaikan ke kita. Kita harus menjadi seorang yang bisa menerima segala keluhan mereka, bahkan bukan hanya sebagai pendengar tapi juga sebagai seorang yang bisa mengatasi keluhan yang mereka rasakan.

Seorang asisten adalah penengah dalam setiap masalah yang terjadi baik masalah sosial, ego, lingkungan, dan lain-lain. Kita harus menjadi seorang yang menengahi masalah-masalah yang terjadi dalam lingkungan kebun.

24 jam adalah jam kerjaan seorang asisten, kita adalah pemilik kebun, pengolah kebun, dan pelayan kebun. Asisten akan memegang tanaman kelapa sawit sekitar 700-800 hektar. Itu bukanlah hanya sepetak lahan yang kecil. Ingat, setiap kejadian adalah tanggung jawab seorang asisten, kecelakaan kendaraan, kebakaran, demo, pendidikan anak, kebebasan beragama, sarana olahraga, pangan karyawan, musibah, sarana transportasi, air, pemukiman, kebersihan, listrik, bahkan seorang ibu yang melahirkan itu menjadi tanggung jawab kita tapi bukan bertanggung jawab untuk menikahinya ya hehehehe, tapi segala fasilitas bayinya, proses kelahirannya akan menjadi tanggung jawab kita pula.

Berat? Emmm sebenarnya tinggal bagaimana kita menanggapi dan menjalaninya. Ikhlas adalah kuncinya. Kita digaji juga bukan untuk hanya kerja santai kan? Sebenarnya apapun pekerjaannya jika memang kita menikmatinya kerjaan apapun tidak menjadi masalah. Setiap pekerjaan pasti punya resiko, tapi dibalik itu juga punya kelebihannya kan. Yang terpenting sahabat-sahabatku PKS’49 siapkan dan mantapkan dirimu semaksimal mungkin sebelum penempatan kita nanti di November 2014. Semoga kita menjadi asisten yang diharapkan semua orang dan bisa berkerja dengan baik dimanapun kita ditempatkan. Semangat.!!! 





Sabtu, 26 April 2014

My Name is Julius Tan


Julius adalah sebuah nama yang diberikan kepadaku kurang lebih 20 tahun yang lalu tepatnya tanggal 12 Juli 1994 (promosi ulang tahun) hehehe. Aku sempat bertanya tentang arti dari namaku sendiri, kenapa aku memiliki nama yang begitu simpel dan singkat hehehe. Lalu orang tuaku memberitahu bahwa nama itu diberikan karena aku dilahirkan di bulan Juli, emmm begitu simpel jawaban kedua orang tuaku sih, ya sesuai dengan simpelnya namaku hehehe.

    Ketika aku ditanya oleh setiap orang tentang siapa namaku lalu aku menjawabnya bahwa namaku adalah “Julius”. Itu sajakah? Nama panjangnya siapa?

“Julius doang” atau kadang aku biasa menjawabnya dengan “Julus aja, Julius tok!”.

Sebenarnya terdapat sedikit pertanyaan kenapa namaku begitu simpel, padahal setiap orang tua selalu memberikan nama terbaik untuk anaknya, yang biasanya dibalik nama tersebut adalah doa ataupun harapan dari orang tuanya. Setiap nama seorang anak pasti ada yang unik, panjang, bermakna, dan lain-lain tapi berbeda denganku. Itulah yang membuatku terkadang merasa iri.     

Julius, emm mungkin namaku identik dengan seorang bangsa Romawi atau yang lebih dikenal dengan nama Julius Caesar, atau adapula yang menyamakan namaku dengan seniman Indonesia yaitu Julius Sitanggang, Ya itulah mungkin yang ada dibenak setiap orang jika mendengar nama Julius. Atau mungkin orang tuaku berharap aku bisa menjadi seseorang yang berpengaruh seperti Julius Caesar dan Julius Sitanggang kali ya hehehe.

Ada hal yang unik dibalik namaku ini, mungkin jika seseorang yang bernama Julius di dunia ini adalah seorang non Muslim, tapi berbeda denganku, aku adalah seseorang yang bernama Julius dan aku adalah seorang Muslim. Aku terlahir dari seorang pria luar biasa yang bernama Kasan Tan, beliau adalah orang keturunan Tionghoa dan seorang wanita perkasa yang bernama Nurcahaya Gultom yang merupakan keturunan Batak. Fisikku sendiri mungkin lebih pas jika dikatakan keturunan Tionghoa, mungkin karena mata sipitku ini hehehe.

Seorang ayah yang merupakan keturunan Tionghoa yang lebih identik dengan agama Buddha, dan seorang ibu yang merupakan keturunan Batak yang mungkin lebih identik dengan kaum Nasrani, tapi aku adalah seorang Muslim emm mungkin banyak orang yang bertanya-tanya tentang diriku, apalagi jika seseorang yang baru mengenalku dan melihatku berada di mesjid mungkin dalam benakknya ini di mesjid ada anak mualaf ya, lalu ia datang berkenalan denganku dan menanyakan namaku.

“Namaku Julius”.

Mungkin setelah itu dia langsung spot jantung dengar namaku. Mungkin dalam benaknya, “Anak ini muka cina, nama romawi gitu kayak orang non Muslim, tapi ke mesjid -____-” ”.

   Setelah lama kenal dia baru bilang, “Eh maaf ya dulu itu aku kira kamu non Muslim loh dari nama dan wajahnya keliatannya begitu, eh kok masuk mesjid, ternyata kamu Muslim”.

“Kamu sih mungkin udah orang ke-1000 yang bilang gitu”, ya begitulah jawabanku setiap kali ada yang ngomong begitu walaupun aku tak tau dia orang ke berapa, mungkin sudah seribu lebih ya sekarang, tapi tetep aja kubilang kamu orang ke-1000 hehehe.

   Sebenarnya nama lengkapku adalah Julius Tan. Tan sendiri adalah sebuah marga yang diturunkan dari ayahku. Katanya sih setiap orang Tionghoa itu pasti punya nama Tionghoanya. Emm dan Alhamdulillah di balik simpelnya namaku aku punya nama yang keren, ya bagiku sih keren hehehe. “Chen Guo You”, iya itu lah nama lainku. Chen adalah sebuah marga, kalau bahasa Indonesianya “Tan” dan kalau Mandarinnya adalah ”Chen”. Guo itu memiliki arti negara sedangkan You adalah sahabat. Jadi makna dari nama Chen Guo You itu adalah sebuah negara yang bersahabat. Kalau nama ini sendiri adalah nama diberikan oleh ayahku dikarenakan beliau masih memegang budaya Tinghoa yang ia percayai, mungkin dia ingin anaknya bisa berkembang seperti sebuah negara yang bisa menaungi jutaan rakyatnya dan juga menjadi seseorang yang bersahabat dengan setiap orang, kayaknya sih hehe. Ya walaupun pelafalannya agak sulit ya “Chen Guo You”, tapi aku sangat suka akan nama itu.

   Aku punya sebuah sejarah hidup yang buruk dengan namaku ini. Aku sempat ingin menghilangkan marga “Tan” yang ada pada diriku dengan tidak mau menempelkannya di absen, rapot, dan bet nama baju SD ku kala itu. Aku ingat kala itu aku tidak mau di baju sekolahku ada nama “Tan” aku hanya ingin nama yang ada di bajuku hanya “Julius”. Kenapa? Kenapa begitu?

   Aku sempat malu dengan keadaan namaku, terutama margaku itu. Aku merasa berbeda sendiri dengan teman-temanku yang lain. Aku malu ketika aku seorang Muslim tapi aku memiliki marga “Tan”.  Aku malu ketika aku seorang Muslim tapi mataku cipit dan aku memiliki kulit yang putih. Aku sempat berkata kepada ibuku waktu itu.

“Ma, Juli ingin punya kulit hitam aja, Juli mau main di terik matahari aja biar hitam biar tidak keliatan kalau Juli adalah orang Cina”, kataku.

Aku juga sempat berkaca di depan cermin dan mencoba membuka mataku lebar-lebar agar aku tidak memiliki mata sipit lagi ya maklum lah namanya juga anak kecil hehehe. Aku sempat sedih ketika aku mengingat pemikiranku waktu itu. Aku begitu malu dengan keadaan keturunanku yang mungkin berbeda dengan yang lain. Mungkin memang iya dulu aku sempat merasakan tekanan sosial dengan nama, fisik, dan kepercayaanku yang saling bertolak belakang. Ya tapi memang begitulah perasaanku waktu itu.

Sekarang aku tidak peduli dengan namaku yang simpel, margaku yang sempat ingin kuhilangkan saja karena aku tidak mau orang beranggapan kalau aku adalah seorang Buddhis, fisikku yang tidak cocok dengan orang Muslim lainnya, bagiku yang terpenting adalah menunjukkan pada semua orang kalau orang yang memiliki marga “Tan’ juga ada yang seorang Muslim dan bukan Mualaf. Aku bukan seperti Ustadz Felix Siauw yang memeluk agama Islam di masa dewasanya, aku sudah menjadi seorang Muslim sejak aku lahir, aku sudah biasa dengan anggapan setiap orang di awal perkenalanku dengannya, pasti ia memiliki pemikiran yang sama dengan yang lain. Aku seharusnya bangga dengan namaku yang mungkin lebih mudah orang mengingatnya. Aku juga tidak ingin menyembunyikan lagi marga yang kumiliki sekarang. Marga yang diturunkan dari ayahku, aku hanya ingin orang tau kalau aku yang sukses nantinya adalah seorang yang terlahir dari seorang yang keturunan Tinghoa dan memiliki marga “Tan”, aku sudah seharusnya bangga dengan marga yang kumiliki. Saat ini aku sudah ada beberapa orang yang memanggilku dengan Bapak Tan, walaupun sebenarnya masih agak asing di telingaku, tapi aku cukup senang akan panggilan itu. Ya setidaknya setiap orang akan tau kalau aku punya marga itu dan aku bangga dengan marga itu.




Orang Tua dan Anaknya


Setelah sebelumnya mendapatkan kisah inspiratif mengenai seorang pembrondol yang menyekolahkan anaknnya hingga kuliah, kali ini aku mendapatkan kisah luar biasa lagi dari seorang mandor perawatan yang juga telah susah payah menyekolahkan anaknya.

Kebetulan anaknya adalah adik kelasku juga di IPB. Walaupun tak seromantis kisah yang sebelumnya, tapi ada point penting dari kisah ini yang mungkin bisa membuka pikiran kita untuk bisa menjadi lebih baik.

Karena bisa lulus di program beasiswa yang sama, kuliah ini tidaklah menjadi beban besar bagi orang tua. Kalau boleh jujur sebenarnya uang saku yang diberikan masih kurang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ditambah lagi dengan lumayan besar biaya hidup di Bogor jika dibandingkan dengan Medan sih. *kurang bersyukur sepertinya hehehe. Tapi begitulah kenyataannya, masih banyak mahasiswa yang minta bantuan ke orang tua untuk bisa memberikan tambahan uang saku.

Beliau sempat bertanya mengenai kelakuan anaknya di kampus apakah baik atau tidak. Aku yang kebingungan hanya bisa menjawab pastinya dia lebih dewasa pak dan sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk, soalnya jika aku bilang tidak baik nantinya bisa berabe urusannya dan kalau kubilang baik nanti dikira muji-muji anaknya hehehe. Berhubung aku tidak tau pasti maka kusampaikan saja seperti itu hehehe.

“Kalau dia mudah-mudahan lebih dewasa pak dibandingkan dengan adik-adiknya yang lain”.

“Baguslah pak kalau begitu, jadinya kan bapak tidak usah terlalu mikiri keadaannya di Bogor”.

“Iya pak mudah-mudahan bisa membantu adik-adiknya lah nanti jika sudah sukses. Soalnya pak, pernah saya bertanya kepada dia apakah dia punya uang atau tidak, dia bilangnya uangnya masih ada, eh rupanya setelah itu dia langsung menghubungi adeknya untuk minjam uang karena dia segan untuk ngerepotin saya pak, tapi adiknya menyampaikan kepada saya walaupun tanpa sepengetahuan dia pak, makanya sekarang saya selalu ngirimin dia uang walaupun dia bilang kalau uangnya masih ada, karena gitu kenyataannya pak kadang dia lebih memilih kelaparan daripada ngerepotin orang tuanya, iya kita sebagai orang tua tidak tega lah melihat dia seperti itu”, cerita bapak itu dengan logat bataknya hehehe.

Maklum disini kebanyakan orang-orang batak yang bahasanya masih sangat kental.

Begitu singkat cerita Bapak itu tapi begitu banyak makna yang tersirat dalam perbincangan kami. Pertama, sebagai orang tua bagaimana pun keadaannya dia tetap lebih mengutamakan keadaan anaknya walaupun si anak tidak mau merepotkan mereka. Terkadang banyak orang tua yang cerewet kepada anaknya tapi walaupun begitu cerewetnya mereka tidak sebanding dengan besarnya kasih sayang mereka. Aku mengetahui keadaan keuangan orang tuanya mungkin bisa dikatakan pas-pasan, tapi dia tidak peduli dengan keadaan keuangan yang pas-pasan itu asal bukan anaknya yang sampai tidak makan disana gara-gara ingin menghemat uang yang ia punya. Mungkin saja jatah makan orang tuanya yang tiga kali sehari diporsir olehnya menjadi dua kali dan jatah makan satunya disisihkannya untuk uang pesawat anaknya ketika ingin pulang ke kampung halaman. Bagitulah besarnya pengorbanan orang tua untuk harapannya di masa depan yaitu kesuksesan anaknya.

Kedua, sebagai seorang anak sudah seharusnya kita mengerti keadaan orang tua. Aku  salut dengan anak tersebut yang bisa kukatakan sudah cukup dewasa. Memang sudah saatnya kita mandiri dan tidak merepotkan orang tua lagi. Tindakan dia benar-benar  kuacungkan jempol hehehe. Mau sampai kapan kita merepotkan kedua orang tua kita, setidaknya secara perlahan kita harus bisa mengurangi intensitas uang yang diberikan beliau untuk kita. Apalagi jika kita lebih sering menghabiskan uang yang mereka peroleh dengan keringat hanya untuk kepuasan sementara tanpa ada hasilnya. Memang pasti sulit, tapi mari perlahan dan secara bertahap untuk tidak merepotkan mereka lagi. Aku sudah merasakan capeknya kerja dibawah terik matahari, pergi pagi-pagi lalu pulang sorenya hanya untuk anak tercinta tapi apa balasan dari kita? Jujur jika aku terus-terusan seperti itu mungkin hanya bisa mengeluh apalagi gaji tidak sebanding dengan keringat yang keluar. Mereka hanya ingin kita sukses, maka daripada itu ayok berkomitmen untuk bisa sukses dan mulai belajar lebih dewasa.

Untuk saat ini mungkin beliau yang selalu mengirim kita uang saku, tapi tahun depan kita sudah harus bisa mengurangi intensitas uang yang mereka kirim, lalu tahun berikutnya kita sudah tidak bergantung dengan uang kiriman mereka bahkan mungkin sudah bisa mengatakan untuk tidak usah mengirimkan uang saku lagi, dan tahun berikutnya lagi sudah kita lah yang mengirim mereka uang bukan mereka yang memberikan kita uang. Subhanallah Allahu Akbar!!


Tetap semangat teman-teman, semoga kita bisa membuat mereka tersenyum dengan apa yang telah kita lakukan.


Demi Buah Hati Apapun Kulakukan


Perantauanku saat ini setelah kota Bogor adalah Riau. Disinilah aku berdiri sekarang untuk 5 bulan ke depan. Kebun Rama-rama insyaAllah akan menjadi sebuah tempat yang takkan kulupa karena akan banyak memberikanku pelajaran baik di dunia sawit, sosial, ataupun yang lainnya.

Kusingkirkan tingkah keanak-anakanku ditempat ini. Aku bukanlah dipanggil lagi adek, mas, bang atau apapun, saat ini semua orang memanggil diriku dengan sebutan Pak.

“Aku masih muda bu, pak, masak sudah dipanggil Bapak hehehe”, gumamku dalam hati.

Tapi beginilah kenyataannya hehehe aku sudah menjadi bapak-bapak disini hehehe.

Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kali ini. Disini aku belajar bagaimana menjadi orang tua yang berjuang demi anaknya dan belajar bagaimana menjadi seorang anak agar tidak mengecawakan orang tua yang telah berjuang demiku.
Sesuap nasi yang dimakan orang-orang disini semua bergantung dari perusahaan yang memperkerjakan mereka. Bangun pagi-pagi, ikut lingkaran pagi, berangkat ke kebun, kerja mati-matian demi memperjuangkan si “Rupiah”. Begitulah rutinitas setiap harinya yang mereka lakukan.
Di kebun ini aku berjumpa dengan ayah sahabatku di kampus yang kebetulan satu jurusan denganku. Beliau bekerja sebagai karyawan disini tepatnya seorang pengutip brondolan kelapa sawit. Kulihat dia berjalan tanpa alas kaki mengelilingi kebun yang beratus-ratus hektar sambil mengutip brondolan sawit yang jatuh dan tercecer, berpakaian baju kampanye yang diberikan oleh salah satu partai politik serta celana yang juga seadanya. Kujabat tangannya sambil tersenyum seraya berkenalan dengannya dan menyampaikan kalau aku adalah teman anaknya di kampus. Beliaupun membalas senyumku dengan senyum terbaiknya walau harus menampakkan gigi-giginya yang perlahan mulai hilang.

“Bapak itu dulunya adalah seorang pemanen namun sekarang karena sudah tua, beliau tidak mampu lagi memanen ditambah dengan semakin tingginya tanaman, oleh karena itu saat ini beliau hanya mampu mengutip brondolan”, celetus dari salah satu mandor yang menemaniku saat itu.

“Sekarang anak bapak itu seangkatan dengan bapak kan di IPB?”, tanyanya.

“Iya pak kebetulan kami seangkatan dan saya lumayan kenal dengannya”, jawabku.

Mandor itu bercerita panjang mengenai cerita hidup seorang bapak tua yang mati-matian menyekolahkan anaknya hingga berkuliah saat ini walau hanya sebagai seorang pemanen dan pembrondol.

“Ketika anaknya telah lulus di program wisuda yang diberikan Sinarmas ini, bapak itu merasa bahagia bercampur sedih. Senang karena dia berharap anaknya bisa sukses dan bisa menyekolahkan adik-adiknya, ada pula perasaan sedih karena di lain sisi dia tidak memiliki uang untuk memberangkatkan anaknya ke Bogor. Sebelum berangkat bapak itu sempat keliling kampung ini untuk minjam uang ke tetangga-tetangga untuk bisa memberangkat anaknya tapi tidak satu pun orang mau memberikan pinjaman dengan alasan masih sama-sama butuh uang tersebut. Pintu ke pintu tapi tak juga ada yang mau membantu. Saya sebenarnya begitu sedih tapi saya juga tak punya uang untuk membantunya. Akhirnya Bapak tersebut meminta tolong kepada saya untuk membantunya meminjamkan uang di bank karena sulitnya mencari pinjaman di kampung ini, tapi ketika saya tanyakan apakah bapak tersebut punya akte, surat nikah atau yang lainnya, beliau juga tidak punya. Saya sempat bingung bagaimana menolongnya. Benar-benar tidak tega melihat bapak tersebut. Akhirnya saya berusaha mencari bantuan untuk menggadaikan surat tanah orang untuk bisa minjam uang di bank, dan untungnya ada yang prihatin dan ikhlas membantu dan dengan syarat, biaya per bulan yang dikenakan oleh bank menjadi tanggungan bapak tersebut, dan bapak itu mengiyakannya” cerita bapak mandor tersebut.

Apapun kulakukan demi suksesnya anakku walau keringat bercucuran darah nantinya, mungkin begitulah yang ada pada benak bapak tersebut. Dan mudah-mudahan anaknya bisa membalas kerja keras orang tua saat ini di masa depan.

Beberapa hari setelahnya aku mengetahui bahwa setiap bulannya beliau hanya mendapatkan tidak lebih dari 2 juta, menghidupi keluarga dengan uang secukupnya mungkin juga kurang sebenarnya, fasilitas dari perusahaan pun kurasa kurang baginya. Aku teringat ketika anaknya sering telat membayar uang kosan, jarang ikut patungan jika ada sesuatu, ataupun ikut jalan-jalan. Perasaanku benar-benar terharu saat itu. Hatiku bertanya kenapa aku tidak peka terhadap kehidupan teman-temanku sendiri. Namun, yang bisa kulakukan adalah berdoa semoga usaha yang dilakukan bapaknya takkan bisa dan semoga anakknya bisa membalas kerja keras yang dilakukan orang tuanya.



       Dengan sepenggal kisah ini, bukan hanya dia, mungkin aku dan kita semua harus bisa membahagiakan semua orang yang telah berjuang demi kita terutama orang tua kita. Tetap syukuri hidupmu saat ini, jangan cepat puas dengan segalanya, tetap berusaha demi kehidupan yang lebih baik untukmu dan untuk semuanya karena pahitnya hidup yang kita alami mungkin lebih pahit lagi kisah hidup orang di luar sana atau bahkan sahabat kita sendiri. Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin..