Day 3 - @30haribercerita
Melanjutkan cerita saya sebelumnya di Day 2 - @30haribercerita, saya ingin sharing bagaimana kita belajar untuk terbiasa memberi manfaat kepada orang di sekitar kita.
Berdasarkan pengamatan Dr. Maxwell Maltz, manusia memerlukan waktu sekitar tiga minggu atau 21 hari untuk mengadaptasikan diri terhadap perubahan-perubahan di dalam hidup. Inilah yang sering kita dengar, bahwa kita harus mengulang pekerjaan sebanyak 21 hari secara terus menerus untuk menciptakan kebiasaan.
Menurut Witherington dalam kutipan Djaali adalah “an acquired way of acting which is persistent, uniform, and fairly automatic”, kebiasaan merupakan cara bertindak
yang diperoleh melalui belajar secara berulang-ulang, yang pada akhirnya menjadi menetap dan bersifat otomatis.
Ada penelitian terbaru dari Phillippa Lally dari University College London yang dipublikasikan dalam European Journal of Social Psychology. Ternyata waktu yang diperlukan untuk menciptakan habit itu bervariasi tergantung tingkat kesulitan perilaku yang diinginkan, kurang lebih antara 21 hari-66 hari (sekitar 2 bulan) waktu yang ditetapkan menjadi batas yang universal.
Saya coba melampirkan beberapa sumber yang saya baca tentang menciptakan habit. Intinya semuanya ada di diri kita, ada dalam hati kita, terkadang sesuatunya harus dipaksa untuk meciptakan kebiasaan itu.
Saya sebelumnya tidak terbiasa dengan membaca Al Qur'an 1 hari 1 juz, namun karena ikutan grup ODOJ, kita secara alami perlahan mampu mengikuti, karena termotivasi satu sama lain, dan kadang sedikit terpaksa karena malu melihat teman-teman yang lain bisa, kenapa saya tidak bisa. Jadi seolah saya baca Qur'an karena terpaksa di dalam grup ODOJ bukan karena Allah. Namun memang semuanya harus dipaksa, coba kita keluar dari grup itu, pasti bacaan kita mulai tidak teratur.
Begitu juga dalam membiasakan diri memberi manfaat untuk orang banyak, semua itu harus dipaksa, semua itu harus dimulai dari hati, dan harus dijadikan gaya hidup. Pergi berangkat kerja pasti melewati mesjid, ada disitu kotak infaq, jangan lewatkan 1 haripun untuk bersedekah, 2 ribu aja 1 hari, insyaAllah nggak berat kok. InsyaAllah jadi kebiasaan.
Gaya hidup baru, gaya hidup berbagi, gaya hidup bermanfaat untuk orang lain.
#30HariBercerita #HBC1903
dengan cinta hidup menjadi indah, dengan ilmu hidup terasa mudah dengan iman hidup menjadi terarah I Perkebunan Kelapa Sawit '49 IPB I FR Diploma IPB I BEM-J IPB | Anisa Fitriani's
Rabu, 09 Januari 2019
Rabu, 02 Januari 2019
Sudahkah Kita Bermanfaat Untuk Orang Lain Hari Ini
Day 2 - @30haribercerita
Kadar emas adalah karat, kadar manusia adalah manfaat. Lalu sudah bermanfaatkah kita untuk orang lain hari ini?
Menurut saya, pertama kali yang harus kita lakukan adalah hal yang bermanfaat untuk diri kita sendiri dahulu.
"Apakah hal yang kita lakukan adalah hal yang bermanfaat?"
"Seberapa bermanfaatkah hal yang kita lakukan itu untuk diri kita sendiri?"
Jangan-jangan kita melakukan sesuatu hal yang malah merugikan diri sendiri bahkan melukai diri kita. Kita membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna sama sekali atau hanya kesenangan dan kepuasan semata. Jujur saya sesekali masih sadar melakukan hal-hal yang saya rasa tak perlu, tapi tetap saya lakukan, padahal itu tak bermanfaat untuk saya sama sekali. Mudah-mudahan di 2019 ini kita bisa lebih baik.
Lalu, setelah kita belajar dan mecoba meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk kita, baru kita masuk ke pertanyaan berikutnya,
"Sudahkah kita bermanfaat untuk orang lain?".
Lakukanlah sesuatu dari yang kecil, yang bermanfaat untuk orang.
"Apa itu?".
Saya coba sharing beberapa contoh untuk kita coba bersama,
1. Bersedekahlah sesering mungkin walau nilainya kecil,
2. Tepat waktu dan tidak ingkar jika berjanji,
3. Mengucapkan "tolong" jika membutuhkan bantuan dan "terima kasih" ketika telah dibantu,
4. Sering sharing dan tidak pelit ilmu,
5. Merapikan tempat tidur dan mencuci piring sendiri,
6. Mudah tersenyum,
7. Membuang sampah pada tempatnya,
8. Menyapa dan berjabat tangan,
9. Memungut sampah mengganggu yang ada di jalan,
10. Menawarkan tumpangan,
11. Menjadi pendengar yang baik,
12. Memberikan pakaian-pakaian yang tidak kita gunakan ke yang membutuhkan,
13. Membiasakan budaya antri/ mendahulukan seseorang yang lebih terdesak,
14. Mempersilahkan wanita atau orang yang lebih tua untuk duduk di fasilitas umum,
15. Mudah memaafkan orang,
16. Meminjamkan barang-barang kecil seperti pena ke teman,
17. Berbagi bekal atau makanan yang kita punya,
18. Menjenguk teman yang sakit,
19. Menghibur teman yang terkena musibah,
20. Saling memberi hadiah,
21. Suka mendonorkan darah,
22. Suka menjadi relawan kegiatan sosial,
23. Untuk para perantau, seringlah memberi kabar ke orang tua,
24. Membuatkan secangkir kopi atau teh kepada keluarga kita,
25. Membawakan sedikit makanan untuk keluarga di rumah sepulang kerja,
26. Membaca buku cerita atau buku kesukaan anak sebelum tidur,
27. Mengucapkan selamat ulang tahun kepada keluarga dan sahabat,
28. Membantu menyeberangkan orang tua/anak-anak di jalan
29. Gotong royong
30. Jangan menunda/berfikir panjang untuk berbuat baik.
Spesial 30 hari bercerita, saya coba sharing 30 hal yang bisa kita lakukan untuk memberi manfaat kepada orang-orang di sekitar kita.
#30HariBercerita #30HBC1902
Kadar emas adalah karat, kadar manusia adalah manfaat. Lalu sudah bermanfaatkah kita untuk orang lain hari ini?
Menurut saya, pertama kali yang harus kita lakukan adalah hal yang bermanfaat untuk diri kita sendiri dahulu.
"Apakah hal yang kita lakukan adalah hal yang bermanfaat?"
"Seberapa bermanfaatkah hal yang kita lakukan itu untuk diri kita sendiri?"
Jangan-jangan kita melakukan sesuatu hal yang malah merugikan diri sendiri bahkan melukai diri kita. Kita membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna sama sekali atau hanya kesenangan dan kepuasan semata. Jujur saya sesekali masih sadar melakukan hal-hal yang saya rasa tak perlu, tapi tetap saya lakukan, padahal itu tak bermanfaat untuk saya sama sekali. Mudah-mudahan di 2019 ini kita bisa lebih baik.
Lalu, setelah kita belajar dan mecoba meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat untuk kita, baru kita masuk ke pertanyaan berikutnya,
"Sudahkah kita bermanfaat untuk orang lain?".
Lakukanlah sesuatu dari yang kecil, yang bermanfaat untuk orang.
"Apa itu?".
Saya coba sharing beberapa contoh untuk kita coba bersama,
1. Bersedekahlah sesering mungkin walau nilainya kecil,
2. Tepat waktu dan tidak ingkar jika berjanji,
3. Mengucapkan "tolong" jika membutuhkan bantuan dan "terima kasih" ketika telah dibantu,
4. Sering sharing dan tidak pelit ilmu,
5. Merapikan tempat tidur dan mencuci piring sendiri,
6. Mudah tersenyum,
7. Membuang sampah pada tempatnya,
8. Menyapa dan berjabat tangan,
9. Memungut sampah mengganggu yang ada di jalan,
10. Menawarkan tumpangan,
11. Menjadi pendengar yang baik,
12. Memberikan pakaian-pakaian yang tidak kita gunakan ke yang membutuhkan,
13. Membiasakan budaya antri/ mendahulukan seseorang yang lebih terdesak,
14. Mempersilahkan wanita atau orang yang lebih tua untuk duduk di fasilitas umum,
15. Mudah memaafkan orang,
16. Meminjamkan barang-barang kecil seperti pena ke teman,
17. Berbagi bekal atau makanan yang kita punya,
18. Menjenguk teman yang sakit,
19. Menghibur teman yang terkena musibah,
20. Saling memberi hadiah,
21. Suka mendonorkan darah,
22. Suka menjadi relawan kegiatan sosial,
23. Untuk para perantau, seringlah memberi kabar ke orang tua,
24. Membuatkan secangkir kopi atau teh kepada keluarga kita,
25. Membawakan sedikit makanan untuk keluarga di rumah sepulang kerja,
26. Membaca buku cerita atau buku kesukaan anak sebelum tidur,
27. Mengucapkan selamat ulang tahun kepada keluarga dan sahabat,
28. Membantu menyeberangkan orang tua/anak-anak di jalan
29. Gotong royong
30. Jangan menunda/berfikir panjang untuk berbuat baik.
Spesial 30 hari bercerita, saya coba sharing 30 hal yang bisa kita lakukan untuk memberi manfaat kepada orang-orang di sekitar kita.
#30HariBercerita #30HBC1902
Smarthphone Atau Stupidphone
Day 1 - @30haribercerita
Sudah seberapa manfaat benda berbentuk kotak kecil yang selalu kita bawa-bawa setiap hari, ke rumah, ke sekolah, ke kampus, ke mall, ke pasar, bahkan benda itu sampai tak mau kita lepaskan walau kita ke kamar mandi?? Itu fakta yang kita hadapi saat ini. Seorang anak balita saat ini akan menangis jika dia tidak memegang hp ibu atau ayahnya. Sebegitu berartinya kah benda kecil itu. Seri terbaru akan menjadi incaran para generasi milenial karena takut ketinggalan tren. Padahal perkembangannya tak ada habisnya, dan keinginan manusia untuk memperbaharuinya pun tak ada habisnya.
"Smartphone", benda berbentuk kotak yang sudah jadi kebutuhan pokok bagi setiap orang. Kata itu sudah tak asing bagi semua orang, bagi berbagai macam generasi dari bayi hingga mereka yang sudah memasuki usia tua. Orang akan merasa gelisah jika tak memegang benda tersebut sebentar saja, bahkan hidup serasa hampa tanpanya.
Smartphone terdiri dari kata "smart" dan "phone", atau bisa diartikan telepon yang pintar. Semua yang kita butuhkan saat ini ada disitu. Berinteraksi dengan orang melalui pesan, suara, gambar, video, semuanya bisa dilakukan. Jika kita jenuh, kita punya berbagai macam permainan di dalamnya. Akses internet yang mudah juga kita dapatkan. Berbagai informasi bisa secepat mungkin kita dapatkan, begitu juga ilmu baru, hal-hal yang tidak kita ketahui, dll. Semuanya tersedia lengkap dalam benda kecil tersebut.
Beberapa hari yang lalu saya juga mendownload salah satu aplikasi dimana didalamnya ia seperti alarm akan ibadah kita. Ketika beberapa menit memasuki waktu sholat, dia mengingatkan kita. Lalu dia menanyakan kita apakah sudah melakukan sholat dhuha pada hari itu, di malam hari kita diminta untuk setor ibadah apa saja yang sudah kita lakukan dalam hari itu. MasyaAllah, begitu pesat perkembangaan smartphone saat ini.
Namun, sudah berapa bermanfaatkah benda itu dalam kehidupan kita. Sudahkah kita manfaatkan sebaik mungkin. Sudahkah kita gunakan di jalan yang benar. Atau benda itu kita miliki hanya sekedar gengsi, hanya untuk bermain game semata, hanya karena ingin sesering mungkin berselancar di dunia maya, atau malah untuk berbuat kejahatan. Itu semua kembali kepada kita.
Di dalam smartphone tersedia kamus semua bahasa, semua pengetahuan yang mungkin tidak ada di buku pelajaran kita, semua resep memasak, semua motivasi-motivasi dalam hidup, semua tips dan cara untuk memulai bisnis, semua berita terbaru dan terhangat, semua ilmu agama dan Al Quran, semua transaksi super cepat ada di dalamnya mulai dari kita bangun, kita berpergian, kita berbelanja, kita makan, semua tinggal klik di smartphone kita.
Dan pada akhirnya, jika smartphone-mu tidak membuatmu semakin "smart", tidak mendekatkan dirimu pada Allah, tidak menggapai impianmu yang baik, tidak menyelasaikan studimu dengan gemilang, tidak membuatmu semakin berbakti kepada orang tua, dan tidak menshalehkan dirimu, barangkali yang kamu miliki bukan "SMARTPHONE" namun STUPIDPHONE".
#30HariBercerita #30HBC1901
Sudah seberapa manfaat benda berbentuk kotak kecil yang selalu kita bawa-bawa setiap hari, ke rumah, ke sekolah, ke kampus, ke mall, ke pasar, bahkan benda itu sampai tak mau kita lepaskan walau kita ke kamar mandi?? Itu fakta yang kita hadapi saat ini. Seorang anak balita saat ini akan menangis jika dia tidak memegang hp ibu atau ayahnya. Sebegitu berartinya kah benda kecil itu. Seri terbaru akan menjadi incaran para generasi milenial karena takut ketinggalan tren. Padahal perkembangannya tak ada habisnya, dan keinginan manusia untuk memperbaharuinya pun tak ada habisnya.
"Smartphone", benda berbentuk kotak yang sudah jadi kebutuhan pokok bagi setiap orang. Kata itu sudah tak asing bagi semua orang, bagi berbagai macam generasi dari bayi hingga mereka yang sudah memasuki usia tua. Orang akan merasa gelisah jika tak memegang benda tersebut sebentar saja, bahkan hidup serasa hampa tanpanya.
Smartphone terdiri dari kata "smart" dan "phone", atau bisa diartikan telepon yang pintar. Semua yang kita butuhkan saat ini ada disitu. Berinteraksi dengan orang melalui pesan, suara, gambar, video, semuanya bisa dilakukan. Jika kita jenuh, kita punya berbagai macam permainan di dalamnya. Akses internet yang mudah juga kita dapatkan. Berbagai informasi bisa secepat mungkin kita dapatkan, begitu juga ilmu baru, hal-hal yang tidak kita ketahui, dll. Semuanya tersedia lengkap dalam benda kecil tersebut.
Beberapa hari yang lalu saya juga mendownload salah satu aplikasi dimana didalamnya ia seperti alarm akan ibadah kita. Ketika beberapa menit memasuki waktu sholat, dia mengingatkan kita. Lalu dia menanyakan kita apakah sudah melakukan sholat dhuha pada hari itu, di malam hari kita diminta untuk setor ibadah apa saja yang sudah kita lakukan dalam hari itu. MasyaAllah, begitu pesat perkembangaan smartphone saat ini.
Namun, sudah berapa bermanfaatkah benda itu dalam kehidupan kita. Sudahkah kita manfaatkan sebaik mungkin. Sudahkah kita gunakan di jalan yang benar. Atau benda itu kita miliki hanya sekedar gengsi, hanya untuk bermain game semata, hanya karena ingin sesering mungkin berselancar di dunia maya, atau malah untuk berbuat kejahatan. Itu semua kembali kepada kita.
Di dalam smartphone tersedia kamus semua bahasa, semua pengetahuan yang mungkin tidak ada di buku pelajaran kita, semua resep memasak, semua motivasi-motivasi dalam hidup, semua tips dan cara untuk memulai bisnis, semua berita terbaru dan terhangat, semua ilmu agama dan Al Quran, semua transaksi super cepat ada di dalamnya mulai dari kita bangun, kita berpergian, kita berbelanja, kita makan, semua tinggal klik di smartphone kita.
Dan pada akhirnya, jika smartphone-mu tidak membuatmu semakin "smart", tidak mendekatkan dirimu pada Allah, tidak menggapai impianmu yang baik, tidak menyelasaikan studimu dengan gemilang, tidak membuatmu semakin berbakti kepada orang tua, dan tidak menshalehkan dirimu, barangkali yang kamu miliki bukan "SMARTPHONE" namun STUPIDPHONE".
#30HariBercerita #30HBC1901
Senin, 31 Desember 2018
Orang Tua
Orang tua, dulu sewaktu membangun rumah tangga, memulainya dengan tidak mudah bahkan beberapa kali mengalami kekurangan. Hingga bisa berada dalam kondisi saat ini, mereka menempuh waktu yang lamanya lebih dari usiaku sekarang. Kini saat kita ingin memulai rumah tangga sendiri, dengan kondisi yang tidak sama persis, tapi paling tidak sama-sama tidak mudah, kenapa ukuran kesiapan itu juga berubah padahal dulu mereka tahu bahwa apa yang dimiliki sekarang adalah perjuangan bersama. Kini, saat ingin memulai perjalanan kita sendiri, mereka cemas dan khawatir, melebihi kekhawatiran kita sendiri. Kini, saat saya sudah menjadi orang tua, saya paham bagaimana memperlakukan anak-anakku nanti ketika mereka ingin memulai "cerita"nya. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang luas kepercayaan dan keberaniannya. Yang luas keyakinan dan ketenangan hatinya. Agar saat nanti melepas mereka, kita benar-benar paham jika anak itu adalah titipanNya. Bukan milik kita seutuhnya." (Kurniawan Gunadi). Semoga kita menjadi orang tua yang lebih baik setiap harinya
Minggu, 30 Desember 2018
Saling Terikat
Kita saling terkait dengan cara-cara yang sulit kita pahami. Pertemuan kita dengan seseorang. Perasaan kita terhadap seseorang. Kehilangan kita atas seseorang. Bahkan untuk hal-hal di luar pertemuan, tidak saling kenal tapi membaca tulisan-tulisannya. Hidupmu berubah. Selalu ada kaitan yang mungkin baru akan kita pahami nanti, entah kapan. Barangkali, hanya bisa didapatkan oleh mereka yang bersedia utk merenungi hikmahnya. Menyerap kesedihan dan kebahagiaan sebagai bagian dari proses hidup. Entahlah, apakah kamu pernah menghitung berapa banyak manusia yang kamu temui baik sengaja maupun tidak selama satu hari? Di begitu banyak pertemuan itu, di rumah, di jalan, di angkot, di kampus, di warung, di masjid, dimanapun. Kamu tidak mengenal mereka, tapi berpapasannya kamu dengannya hari itu telah mengubah hidupmu, mungkin juga hidupnya… (@kurniawan_gunadi)
Sabtu, 29 Desember 2018
Puteriku
Puteriku, lebih penting untuk mengajarkanmu tentang bagaimana kamu menjadi lebih peka memahami sekitar, memahami keadaan, memahami peran, memahami manusia lain, dan melakukan sesuatu setelahnya.
Ayah tidak akan mengajarkanmu untuk bagaimana kamu bisa dikenal banyak orang, menjadi tenar, populer, dan dipuja banyak orang.
Ayah juga akan mengajarkanmu untuk menyelami dunia, tidak hanya hidup dipermukaannya. Mudah bagi kita untuk hidup bahagia, aman, dan tentram yaitu dengan cara memikirkan diri kita sendiri saja.
Tapi tidak dikeluarga kita, ayah akan mengajakmu menyelami dunia ini. Itu berarti kita akan belajar menyelam tidak hanya berenang, belajar menghadapi tekanan juga hal-hal tak terduga di kedalamannya. Intinya, hidup kita mungkin tidak akan lebih mudah dari yang lain. Tapi itu berarti kita akan mampu memahami dunia ini beserta isinya.
Boleh jadi dunia ini riuh di permukaannya saja, tawa canda dan segala sesuatunya akan terasa semu saat kita bisa menyelami dalamnya, makna yang sebenarnya. Kita akan menemukan banyak hal, menemukan makna, dan mengerti jika kehidupan ini tidak hanya untuk mencari keselamatan sendiri. @kurniawan_gunadi
Ayah tidak akan mengajarkanmu untuk bagaimana kamu bisa dikenal banyak orang, menjadi tenar, populer, dan dipuja banyak orang.
Ayah juga akan mengajarkanmu untuk menyelami dunia, tidak hanya hidup dipermukaannya. Mudah bagi kita untuk hidup bahagia, aman, dan tentram yaitu dengan cara memikirkan diri kita sendiri saja.
Tapi tidak dikeluarga kita, ayah akan mengajakmu menyelami dunia ini. Itu berarti kita akan belajar menyelam tidak hanya berenang, belajar menghadapi tekanan juga hal-hal tak terduga di kedalamannya. Intinya, hidup kita mungkin tidak akan lebih mudah dari yang lain. Tapi itu berarti kita akan mampu memahami dunia ini beserta isinya.
Boleh jadi dunia ini riuh di permukaannya saja, tawa canda dan segala sesuatunya akan terasa semu saat kita bisa menyelami dalamnya, makna yang sebenarnya. Kita akan menemukan banyak hal, menemukan makna, dan mengerti jika kehidupan ini tidak hanya untuk mencari keselamatan sendiri. @kurniawan_gunadi
Setelah Pernikahan
Setelah pernikahan, tak semua barangkali sesuai yang kita bayangkan sebelumnya. Akan ada hal-hal yang membuat kita merasa bangga berlebihan. Akan ada hal-hal yang membuat kita kecewa. Di sanalah kalian diuji untuk tetap setia pada janji. Cinta pada dasarnya tak punya bentuk, rasa, warna. Tetapi sebenarnya kita tetap bisa meraba juga menatapnya. Kadang-kadang, cinta hanya perlu seikat bunga, sebuah ucapan ucapan, pelukan atau semacam perayaan sederhana. Maka menjelmalah ia menjadi senyum atau airmata yang hanya punya satu nama: Kebahagiaan. (Fahd Pahdepie - Rumah Tangga). Buku rekomendasi buat yang akan menjalani ataupun sedang menjalani rumah tangga.
2019 Lebih Baik
Instagram mah pencitraan doang, keliatannya romantis, padahal aktualnya memang romantis hehe, tapi prosesnya pasti tak mudah, selisih pendapat mah sering, ngambekannya ganti-gantian. Rumah tangga memang gitu ya, kalau lurus aja gak seru, kalau belok-belok terus lebih gak seru sih, hehe. Yang penting positif thinking aja kitanya, saling belajar, saling ingetin, saling nasehatin. Bismillah menuju rumah tangga yang lebih baik #2019lebihbaik
Mau Dibawa Kemana Hidup Ini
Hari-hari dilewati, tanpa ada kesan yang ternikmati. Mau dibawa kemana hidup ini, tanpa adanya arti. Kita terlalu sering terbawa arus zaman, tapi kadang lupa hakikat kita sebagai seorang muslim. Puasa, zakat, sedekah, dhuha, tahajud, bahkan sholat pun kadang terlewati. Hari ini hanya sama seperti hari kemarin, bahkan lebih buruk dari hari kemarin, tapi tidak ada yang merasa rugi sama sekali. Perbaikan diri tak seperti makanan instant, ia butuh proses, ia butuh kemauan, ia butuh perjuangan. Jangan terlalu lama terlarut akan masa lalu yang tak akan pernah terulang, ambil keputusan hari ini, jadikan diri ini lebih baik dari diri kita sebelum-sebelumnya.
Adab Minum
Adab minum yang sering kita lupakan.
1. Janganlah kita minum dalam keadaan berdiri walaupun ia dibolehkan tetapi ia makruh yang menghampiri kepada haram. Anas juga berkata: “Rasulullah SAW telah melarang minum sambil berdiri”. (HR Muslim)
2. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mengajar untuk kita makan dan memegang bekas minuman menggunakan tangan kanan dan melarang umatnya menggunakan tangan kiri kerana ia adalah sifat syaitan dan ciri-ciri orang yang bongkak .
Dari Jabir r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda; “Jangan engkau makan dengan (tangan) kirimu, sesungguhnya syaitan itu makan dan minum dengan (tangan) kirinya.” (HR Muslim), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Jika salah seorang dari kamu hendak makan, hendaklah makan dengan tangan kanan. Dan apabila ingin minum, hendaklah minum dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)
1. Janganlah kita minum dalam keadaan berdiri walaupun ia dibolehkan tetapi ia makruh yang menghampiri kepada haram. Anas juga berkata: “Rasulullah SAW telah melarang minum sambil berdiri”. (HR Muslim)
2. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) mengajar untuk kita makan dan memegang bekas minuman menggunakan tangan kanan dan melarang umatnya menggunakan tangan kiri kerana ia adalah sifat syaitan dan ciri-ciri orang yang bongkak .
Dari Jabir r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda; “Jangan engkau makan dengan (tangan) kirimu, sesungguhnya syaitan itu makan dan minum dengan (tangan) kirinya.” (HR Muslim), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Jika salah seorang dari kamu hendak makan, hendaklah makan dengan tangan kanan. Dan apabila ingin minum, hendaklah minum dengan tangan kanan. Sesungguhnya syaitan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim)
Bahagia Bersama
Bahagia bersama..
Kehadiran si kecil tak sepenuhnya berakhir dengan kebahagiaan. Ada sesekali masa dimana kita jenuh, dan ingin meluangkan waktu untuk kebebasan kita sendiri. Bebas dari rutinitas seorang ibu yang mengurus anak dan suami, bebas masak, bebas bersih-bersih dan sebagainya. Biasa si ibu sering menyebutnya "Me Time". Tapi tak selamanya melepas penat itu hanya dengan "Me Time", pergilah dengan keluarga kecilmu, sekedar berbelanja bersama, berlibur bersama, makan bersama, jalan-jalan bersama, melihat sesuatu yang tak biasanya kau lihat dalam rutinitas sehari-hari. Alam kadang bisa jadi solusi dalam kepenatan yang ada. Melihat dan menikmati karya indah Sang Pencipta. Untuk kita para pelosokers, hamparan sawit mungkin bisa jadi salah satu destinasi bagus untuk sekedar bercanda, kumpul, dan makan bersama. Selamat berlibur teman-teman.
Kehadiran si kecil tak sepenuhnya berakhir dengan kebahagiaan. Ada sesekali masa dimana kita jenuh, dan ingin meluangkan waktu untuk kebebasan kita sendiri. Bebas dari rutinitas seorang ibu yang mengurus anak dan suami, bebas masak, bebas bersih-bersih dan sebagainya. Biasa si ibu sering menyebutnya "Me Time". Tapi tak selamanya melepas penat itu hanya dengan "Me Time", pergilah dengan keluarga kecilmu, sekedar berbelanja bersama, berlibur bersama, makan bersama, jalan-jalan bersama, melihat sesuatu yang tak biasanya kau lihat dalam rutinitas sehari-hari. Alam kadang bisa jadi solusi dalam kepenatan yang ada. Melihat dan menikmati karya indah Sang Pencipta. Untuk kita para pelosokers, hamparan sawit mungkin bisa jadi salah satu destinasi bagus untuk sekedar bercanda, kumpul, dan makan bersama. Selamat berlibur teman-teman.
Kalimat Tauhid
Saya termasuk orang yang masih butuh banyak belajar tentang ilmu agama, saya masih banyak tidak taunya tentang tauhid yang diperbincangkan, tapi hati ini sedih sekaligus marah melihat berita yang sedang hangat saat ini.
Alhamdulillah sejak SMA hingga saat ini dipertemukan dan dikenalkan dengan orang-orang baik yang luar biasa semangatnya untuk menyiarkan agama rahmatan lil alamin ini. Cara berbeda, pemahaman berbeda, tapi tujuan tetaplah satu, selisih pendapat pasti sering tapi bukan berarti mengkucilkan yang lain atau bahkan merasa kajian yang diikutinyalah kajian yang paling benar. Jika kita merasa seperti itu berarti ada yang salah pada diri kita tentang prinsip-prinsip keislaman itu sendiri.
"Kami membakar untuk melindunginya agar tidak berada pada tempat yang salah nantinya".
"Salah???"
"Menurut saya niatnya baik, tapi caranya lah yang salah."
Kenapa tidak dilipat, atau disimpan, atau dipergunakan sebaiknya jika tidak ingin benda tersebut terletak tidak pada tempatnya.
Kenapa?? Kalau boleh saya bilang, karena ada satu titik kebencian dalam hatinya, karena satu titik perasaan dialah yang paling baik dan benar, sehingga muncullah niatan baik itu tapi dilakukan dengan cara yang salah, dengan perasaan emosi di dalam hatinya, dengan hawa nafsu berlebih-lebihan. Saya yakin, jika pada saat itu teman-teman berfikiran jernih niat yang baik itu akan diiringi dengan perbuatan yang baik dan benar pula.
Marilah kita berbenah, marilah kita sama-sama intropeksi diri kita
Alhamdulillah sejak SMA hingga saat ini dipertemukan dan dikenalkan dengan orang-orang baik yang luar biasa semangatnya untuk menyiarkan agama rahmatan lil alamin ini. Cara berbeda, pemahaman berbeda, tapi tujuan tetaplah satu, selisih pendapat pasti sering tapi bukan berarti mengkucilkan yang lain atau bahkan merasa kajian yang diikutinyalah kajian yang paling benar. Jika kita merasa seperti itu berarti ada yang salah pada diri kita tentang prinsip-prinsip keislaman itu sendiri.
"Kami membakar untuk melindunginya agar tidak berada pada tempat yang salah nantinya".
"Salah???"
"Menurut saya niatnya baik, tapi caranya lah yang salah."
Kenapa tidak dilipat, atau disimpan, atau dipergunakan sebaiknya jika tidak ingin benda tersebut terletak tidak pada tempatnya.
Kenapa?? Kalau boleh saya bilang, karena ada satu titik kebencian dalam hatinya, karena satu titik perasaan dialah yang paling baik dan benar, sehingga muncullah niatan baik itu tapi dilakukan dengan cara yang salah, dengan perasaan emosi di dalam hatinya, dengan hawa nafsu berlebih-lebihan. Saya yakin, jika pada saat itu teman-teman berfikiran jernih niat yang baik itu akan diiringi dengan perbuatan yang baik dan benar pula.
Marilah kita berbenah, marilah kita sama-sama intropeksi diri kita
Ekspektasi Terhadap Orang Lain
Cobalah untuk menurunkan ekspektasimu terhadap orang lain, agar kamu tidak kecewa karena mereka pasti memiliki kekurangan. Sebab kita seringkali tidak bisa memberi ruang pada rasa kecewa di hati kita.
Cobalah untuk melemaskan egomu terhadap setiap kehendak, agar kamu tidak lelah dalam menjalani hidup. Sebab banyak sekali urusan kita yang harus bersinggungan dengan banyak orang, sementara setiap orang memiliki kehendaknya masing-masing.
Cobalah untuk melapangkan ruang penerimaan. Sebab, menerima orang lain itu lebih sulit daripada saat menumbuhkan perasaan berharap. Sebab, seringkali kita sulit menerima karena kita seringkali merasa tidak diterima. Dan sekalinya ada yang bersedia menerima kita, kita yang seringkali tidak bisa menerimanya. Membuatnya kecewa dan pergi.
Cobalah untuk berani mengakui kesalahan. Sebab, hidup ini bukan tentang menang dan kalah. Kebahagiaan yang hakiki tidak hadir karena kita bisa mengalahkan orang lain. Mengakui kesalahan, bersedia untuk bertanggungjawab, bersedia untuk menerima risiko. Adalah sikap-sikap yang akan memudahkan kita dalam memaknai kebahagiaan. Bukankah perasaan bersalah, yang membuat kita sulit bahagia? @kurniawan_gunadi
Cobalah untuk melemaskan egomu terhadap setiap kehendak, agar kamu tidak lelah dalam menjalani hidup. Sebab banyak sekali urusan kita yang harus bersinggungan dengan banyak orang, sementara setiap orang memiliki kehendaknya masing-masing.
Cobalah untuk melapangkan ruang penerimaan. Sebab, menerima orang lain itu lebih sulit daripada saat menumbuhkan perasaan berharap. Sebab, seringkali kita sulit menerima karena kita seringkali merasa tidak diterima. Dan sekalinya ada yang bersedia menerima kita, kita yang seringkali tidak bisa menerimanya. Membuatnya kecewa dan pergi.
Cobalah untuk berani mengakui kesalahan. Sebab, hidup ini bukan tentang menang dan kalah. Kebahagiaan yang hakiki tidak hadir karena kita bisa mengalahkan orang lain. Mengakui kesalahan, bersedia untuk bertanggungjawab, bersedia untuk menerima risiko. Adalah sikap-sikap yang akan memudahkan kita dalam memaknai kebahagiaan. Bukankah perasaan bersalah, yang membuat kita sulit bahagia? @kurniawan_gunadi
Rabu, 07 November 2018
Apa Itu Menikah??
Menikah bukan sekedar gengsi ataupun tuntutan moral. Ia adalah ladang amal yang siap kita tanam dan panen hasilnya.
Menikah bukan sekedar ikutan tren menikah muda yang banyak diperbincangkan. Ia adalah amanah untuk para kita lelaki, yang memutuskan mengambil tanggung jawab sangat luar biasa yang dipercayakan para orang tua pihak perempuan ke kita.
Menikah bukan sekedar tinggal bersama dalam 1 rumah. Ia adalah ibadah bagi yang menjalankannnya. Karena saling bertatapannya saja untuk pasangan yang sudah sah adalah ibadah bagi mereka.
Menikah bukan sekedar aku cinta kamu, kamu cinta aku. Ia adalah komitmen yang dibangun dari 0.
Menikah bukan sekedar ucapan "selamat atas pernikahannya". Ia adalah awal dari kehidupan baru yang indah. Dimana kau akan selalu ingin cepat pulang dari pekerjaan untuk jumpa dengan keluarga kecilmu. Dimana kau ingin saling bercerita akan aktifitas harianmu. Dimana kau akan saling menebar kebaikan untuk yang lain. Dimana kau akan berbagi suka duka berdua, pahit manis pun berdua.
Menikah bukan sekedar ikutan tren menikah muda yang banyak diperbincangkan. Ia adalah amanah untuk para kita lelaki, yang memutuskan mengambil tanggung jawab sangat luar biasa yang dipercayakan para orang tua pihak perempuan ke kita.
Menikah bukan sekedar tinggal bersama dalam 1 rumah. Ia adalah ibadah bagi yang menjalankannnya. Karena saling bertatapannya saja untuk pasangan yang sudah sah adalah ibadah bagi mereka.
Menikah bukan sekedar aku cinta kamu, kamu cinta aku. Ia adalah komitmen yang dibangun dari 0.
Menikah bukan sekedar ucapan "selamat atas pernikahannya". Ia adalah awal dari kehidupan baru yang indah. Dimana kau akan selalu ingin cepat pulang dari pekerjaan untuk jumpa dengan keluarga kecilmu. Dimana kau ingin saling bercerita akan aktifitas harianmu. Dimana kau akan saling menebar kebaikan untuk yang lain. Dimana kau akan berbagi suka duka berdua, pahit manis pun berdua.
Kamis, 18 Oktober 2018
Yuna's First Birthday
Barakallah Yuna bidadari kecil kami..
Alhamdulillah sudah 1 tahun sejak 17-10-2017 dirimu hadir di keluarga ini dengan izin Allah. Semoga kami, Abi-Ummi bisa menjaga amanah sebaik mungkin. Flashback setahun lalu, maafin abi ya ummi, gak bisa nemenin ketika lahiran, baru hadir setelah 5 jam pasca lahiran akibat diluar prediksi jadwal kehamilannya. Tapi alhamdulillah saat itu sedang dinas di Jakarta, jadi bisa langsung luncuran ke Sukabumi.
Setelah kelahiran Yuna, abi juga cuman bisa nemenin ummi dan yuna selama 2 minggu di Sukabumi, karena kerjaan di ujung Borneo yang tak mungkin ditinggalkan.
"Kenapa tidak lahiran di Kalimantan??"
Mungkin ada yang bertanya seperti itu hehehe, tapi sulit menjawabnya secara detail. Mungkin kami sebagai orang tua ingin segala proses persalinan sebelum maupun sesudah bisa yang terbaik untuk si kecil. Maklum saat ini Abinya masih jadi pelosokers hehehe. Ketemu Yuna kembali saat usianya sudah 5 bulan. Sakit banget rasanya pisah sama si kecil, cuman bisa dikirimin foto-foto dari sang ummi, mau video call pun harus mencari sinyal diatas bukit (tersiksa dengan sinyal), #cirigenerasimillenialhehehe
Alhamdulillah usia 5 bulan Yuna udah diajak jalan ke Medan dan langsung terbang ke tanah Borneo untuk menemani Abinya yang kena penyakit malarindu. Besarin Yuna bukan perkara yang mudah, terimakasih buat ummi yang sangat sangat sangat luar biasa ngerawat yuna, kadang terharu banget Abi, Abinya gak ada apa-apanya dibandingkan Ummi. Semoga Allah balas dengan sebaik-baik amalan ke Ummi. Sedih kadang, bahkan sering, hadirnya Yuna membuat kami terkadang lalai bahkan menjauh dari Allah. Astaghfirullah. Harus lebih banyak belajar lagi kitanya ummi. Kadang emosi juga tak terelakkan, sesekali kami kesal dengan Yuna yang nangisnya gak bisa berhenti, maafin abi ummi ya yun.
Sekarang sudah 1 tahun Yuna, alhamdulillah semakin banyak bisanya, semoga semakin sholehah ya nak, semoga semakin meningkat pula perbaikan diri Abi Ummi untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Aamiin. 17-10-2018
Alhamdulillah sudah 1 tahun sejak 17-10-2017 dirimu hadir di keluarga ini dengan izin Allah. Semoga kami, Abi-Ummi bisa menjaga amanah sebaik mungkin. Flashback setahun lalu, maafin abi ya ummi, gak bisa nemenin ketika lahiran, baru hadir setelah 5 jam pasca lahiran akibat diluar prediksi jadwal kehamilannya. Tapi alhamdulillah saat itu sedang dinas di Jakarta, jadi bisa langsung luncuran ke Sukabumi.
Setelah kelahiran Yuna, abi juga cuman bisa nemenin ummi dan yuna selama 2 minggu di Sukabumi, karena kerjaan di ujung Borneo yang tak mungkin ditinggalkan.
"Kenapa tidak lahiran di Kalimantan??"
Mungkin ada yang bertanya seperti itu hehehe, tapi sulit menjawabnya secara detail. Mungkin kami sebagai orang tua ingin segala proses persalinan sebelum maupun sesudah bisa yang terbaik untuk si kecil. Maklum saat ini Abinya masih jadi pelosokers hehehe. Ketemu Yuna kembali saat usianya sudah 5 bulan. Sakit banget rasanya pisah sama si kecil, cuman bisa dikirimin foto-foto dari sang ummi, mau video call pun harus mencari sinyal diatas bukit (tersiksa dengan sinyal), #cirigenerasimillenialhehehe
Alhamdulillah usia 5 bulan Yuna udah diajak jalan ke Medan dan langsung terbang ke tanah Borneo untuk menemani Abinya yang kena penyakit malarindu. Besarin Yuna bukan perkara yang mudah, terimakasih buat ummi yang sangat sangat sangat luar biasa ngerawat yuna, kadang terharu banget Abi, Abinya gak ada apa-apanya dibandingkan Ummi. Semoga Allah balas dengan sebaik-baik amalan ke Ummi. Sedih kadang, bahkan sering, hadirnya Yuna membuat kami terkadang lalai bahkan menjauh dari Allah. Astaghfirullah. Harus lebih banyak belajar lagi kitanya ummi. Kadang emosi juga tak terelakkan, sesekali kami kesal dengan Yuna yang nangisnya gak bisa berhenti, maafin abi ummi ya yun.
Sekarang sudah 1 tahun Yuna, alhamdulillah semakin banyak bisanya, semoga semakin sholehah ya nak, semoga semakin meningkat pula perbaikan diri Abi Ummi untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Aamiin. 17-10-2018
Rabu, 14 Maret 2018
Jarak
Kenapa bisa bertahan dengan jarak untuk waktu yang lama??
Karena sungguh jarak ini layaknya bumbu pemanis cinta kami berdua..
Terus kalian mau lebih lama pisah, supaya cinta kalian makin romantis gitu??
Engak dong, kalau jarak yang lebih dekat itu bumbunya extra manis-manis super duper manis, jadi aku milihnya tetep jarak yang deket dengan pasangan hehe
INTINY ITU SIH TINGGAL BAGAIMANA KITA MENTRANSFERKAN MASALAH ATAU BUKAN MASALAH TETAP MENJADI BUMBU CINTA DI KEHIDUPAN KITA..
Karena sungguh jarak ini layaknya bumbu pemanis cinta kami berdua..
Terus kalian mau lebih lama pisah, supaya cinta kalian makin romantis gitu??
Engak dong, kalau jarak yang lebih dekat itu bumbunya extra manis-manis super duper manis, jadi aku milihnya tetep jarak yang deket dengan pasangan hehe
INTINY ITU SIH TINGGAL BAGAIMANA KITA MENTRANSFERKAN MASALAH ATAU BUKAN MASALAH TETAP MENJADI BUMBU CINTA DI KEHIDUPAN KITA..
Senin, 12 Maret 2018
Do That You Wanna Do
Don't do that you look people do, but do that you wanna do..
Kebanyakan orang zaman sekarang melakukan segala sesuatunya melihat apa yang kebanyakan orang lakukan. Mungkin secara tidak langsung kitapun si pembaca bahkan penulis juga seperti itu. Terkadang orang hanya sekedar mengikuti apa yang terjadi saat ini, atau kadang disebut terbawa arus. Awalnya dia akan mengikuti arus tersebut, namun kelamaan dia akan terjebak dalam arus tersebut. Kenapa?? Karena dia tak mampu berenang dalam air. Lalu kenapa ia ikut terjun di dalam air?? Karena dia melihat semua orang terjun dalam air.
Ya seperti itulah kita saat ini, kita melakukan segala sesuatunya karena melihat banyaknya orang yang melakukan hal tersebut, walaupun kita sadar kita tidak ingin dan tidak bisa melakukannya. Stop what you don't wanna do but do everything that you wanna do.
Kebanyakan orang zaman sekarang melakukan segala sesuatunya melihat apa yang kebanyakan orang lakukan. Mungkin secara tidak langsung kitapun si pembaca bahkan penulis juga seperti itu. Terkadang orang hanya sekedar mengikuti apa yang terjadi saat ini, atau kadang disebut terbawa arus. Awalnya dia akan mengikuti arus tersebut, namun kelamaan dia akan terjebak dalam arus tersebut. Kenapa?? Karena dia tak mampu berenang dalam air. Lalu kenapa ia ikut terjun di dalam air?? Karena dia melihat semua orang terjun dalam air.
Ya seperti itulah kita saat ini, kita melakukan segala sesuatunya karena melihat banyaknya orang yang melakukan hal tersebut, walaupun kita sadar kita tidak ingin dan tidak bisa melakukannya. Stop what you don't wanna do but do everything that you wanna do.
Jalan Lurus
Perjalanan lurus tak selamanya terasa aman, karena yang lurus terkadang membuat si supir merasa ngantuk dan kurangnya fokus, bahkan terkadang ia lupa bahwa jalan yang lurus juga memiliki lubang-lubang yang sama seperti jalan lainnya.
Minggu, 11 Maret 2018
Sebuah Pernikahan
Pernikahan memerlukan kedewasaan dan tanggung jawab yang lebih.
Lebih dari sekedar kemampuanmu dalam berorganisasi. Kemampuanmu untuk bekerja dan menghasilkan uang. Kemampuanmu dalam menjalankan seluruh ibadah dan amalan.
Sebab itulah ia bernilai setengah agama dalam pandangan islam. Sebab, besarnya nilai urusan-urusan yang ada di dalam pernikahan.
Kalau bukan karena rahmat Allah SWT. Tentu kita akan terasa berat menjalaninya. Dan bersyukurlah sebab atas karuniaNya, kita bisa merasa siap dan cukup untuk memulainya.
Dan tentu saja, memulai tidak lebih berat dari mempertahankannya.
Lebih dari sekedar kemampuanmu dalam berorganisasi. Kemampuanmu untuk bekerja dan menghasilkan uang. Kemampuanmu dalam menjalankan seluruh ibadah dan amalan.
Sebab itulah ia bernilai setengah agama dalam pandangan islam. Sebab, besarnya nilai urusan-urusan yang ada di dalam pernikahan.
Kalau bukan karena rahmat Allah SWT. Tentu kita akan terasa berat menjalaninya. Dan bersyukurlah sebab atas karuniaNya, kita bisa merasa siap dan cukup untuk memulainya.
Dan tentu saja, memulai tidak lebih berat dari mempertahankannya.
Sabtu, 24 Februari 2018
Futur Pasca Menikah
|
Fulanah
merasa penat dan gelisah. Setahun menalani kehidupan rumah tangga tenyata
terasa berat baginya. Pekerjaan rumah yang menumpuk dari mulai menyapu,
mengepel, mencuci piring dan pakaian, menyeterika baju, memasak dan yang
lainnya, harus ia kerjakan setiap hari tanpa libur atau cuti. Apalagi sebulan
setelah akad dan walimah, dirinya positif berbadan dua. Hari-hari masa
kehamilan diwarnai dengan mual muntah, nyeri punggung, kram kaki dan
‘kebiasaan-kebiasaan’ yang menggejala bagi ibu hamil pun ia
lalui. Pasca melahirkan, kesibukannya pun bertambah dengan
kehadiran si bayi mungil. Dengan masih melekatnya pekerjaan-pekerjaan rumah
tangga sebelumnya, praktis 24 jam waktu yang ia miliki seolah masih sangat
kurang. Semakin seabreg rasanya aktivitas harian. Sebenarnya, suami kadang
membantu sebagian pekerjan itu meski tak banyak. Suaminya memang tak banyak
ia harapkan karena harus membanting tulang mencari nafkah dan sibuk dengan
aktivitas dakwah, bahkan tak jarang harus pergi ke luar kota.
|
|
Rutinitas
monoton yang ia jalani saban hari membuat fisiknya layu dan jiwanya kering.
Karena jangankan untuk hadir di taklim-taklim penyubur iman dan ilmu, mushaf
Qur’an miliknya pun sudah lama tak tersentuh.
|
|
Kondisi
demikian memang kerap kita temui. Karena kesibukan setelah menikah apalagi
ditambah punya momongan, seorang akhwat yang dulunya rajin ngaji, semangat taklim,
dan rakus dengan ibadah sunnah, berguguran justru di ‘medan’ mereka yang
sesungguhnya. Pernikahan yang harusnya menjadi penggenap setengah dinnya,
justru menjadi kuburan bagi amal yauminya. Dengan alasan sibuk berkutat dalam
pekerjaan domestik, ibadah tak lebih sekedar sholat lima waktu dengan sisa
waktu dan tenaga.
|
|
Hadirkan Hati
|
|
Pada
dasarnya, seluruh pekerjaan rumah tangga yang melelahkan adalah bagian dari
ibadah itu sendiri. Namun, seringkali hal ini kurang disadari dan dimaknai secara
mendalam. Dengan demikian, kita harus berusaha agar selalu menyadari
bahwa aktivitas harian kita yang padat dengan pekerjaan rumah tangga adalah
ibadah, dan niatkanlah untuk ibadah. Kesadaran itu penting, karena itulah
yang membedakan satu pekerjaan dari hanya sekedar rutin menjadi
ibadah. Kata Ibnu Qayyim, ”Orang yang selalu sadar (untuk beribadah) maka
pekerjaan rutinnya ibadah, sedangkan orang yang lupa dan lalai maka ibadahnya
pun baginya merupakan hal rutin dan kebiasaan saja”.
|
|
Lakukanlah
tugas-tugas kerumahtanggaan dengan penuh kerelaan, kelapangan hati dan penuh
kesadaran bahwa hal itu merupakan ibadah kepada Allah. Hadirkan selalu
hati kita dalam melakukan pekerjaan tersebut. Tanpa kehadiran hati, fisik
yang bekerja tak ubahnya robot yang mekanis.
|
|
Kita
nikmati saja rutinitas harian kita, karena peran yang kita jalani adalah
sebuah anugerah dari Allah yang tidak diberikan pada semua orang. Menjalani
peran-peran dengan penuh rasa syukur akan membantu kita menemukan
kebahagiaan. Menikmati waktu-waktu kita di rumah tanpa terjebak pada
kebisingan dan hiruk pikuk dunia luar, menikmati waktu kita memasak dengan
variasi menu dan menata rumah secara artistik, menikmati becengkerama dengan
anak-anak dan bermain bersama mereka, semuanya akan menambah keindahan hidup
kita.
|
|
Apa-apa
yang kita alami dalam letihnya ‘bekerja di rumah’, pada dasarnya juga dialami
oleh seluruh ibu rumah tangga lainnya. Mereka mungkin justru lebih payah
karena jumlah anaknya lebih banyak, kondisi ekonomi yang kurang baik
dibanding kita, atau hal-hal lain yang menunjukkan lebih baiknya keadaan kita
dibanding mereka. Jadi santai saja, tak perlu merasa bahwa kita adalah ibu
rumah tangga yang ‘diperbudak’ oleh pekerjaan rumah tangga dan kita terjebak
di dalamnya. Faktanya, banyak ibu rumah tangga yang menjalaninya dengan baik
kok!
|
|
Kisah Fathimah
binti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam harusnya menjadi renungan bagi
kita. Ia menggiling gandum sendiri untuk membuat kue hingga membekas tebal di
kedua tangannya (kapalan). Bayangkanlah bagaimana seorang putri Nabi dan
istri seorang shahabat yang mulia, harus menggiling, membuat adonan roti dan
melaksanakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangganya.
|
|
Suatu
ketika ia meminta pembantu kepada sang Ayahanda untuk meringankan
pekerjaannya. Sang Ayah pun memberikan yang lebih baik bagi putrinya. “Maukah
aku tunjukkan yang lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pembantu?
Bila kalian berdua hendak berbaring di tempat tidur kalian, bertakbirlah 34
kali, bertahmidlah 33 kali dan bertasbihlah 33 kali. Maka yang demikian itu
lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian minta.”
|
|
Inilah
wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi putrinya tercinta, Fathimah,
seorang pemmpin para wanita penghuni surga. Ketika ia bermaksud meminta
seorang pembantu untuk meringankan pekerjaannya kepada Ayahandanya. Bukan
pembantu yang Ayahnya berikan, melainkan dzikir yang menenangkan hati dan
pikiran.
|
|
Siasati dengan baik
|
|
Di
sela-sela kesibukan kita, masih banyak peluang untuk menjaring amal ibadah
yang bisa menjadi energi untuk mengidupkan ruhiyah dan memberikan asupan
bergizi bagi jiwa. Priortaskan yang wajib, baru yang sunnah. Maksimalkan
kualitas sholat lima waktu dengan khusyu’. Ibarat mandi lima kali sehari,
sholat menjadi penyegar jiwa kita sehari-harinya. Jika sholat fardhu ini bisa
dilaksanakan dengan kualtas yang baik, insya Allah efeknya luar biasa pada
diri kita.
|
|
Diantara
yang bisa kita lakukan lainnya adalah dengan memanfaatkan sepertiga malam
terakhir untuk qiyamul lail, tilawah, dzikir dan muhasabah. Jadikan
waktu-waktu ini sebagai “me time” (waktu khusus untuk diri kita). Bisa juga
dengan bersama-sama suami. Tentunya, jika suami tidak menghendaki ‘acara
malam’ lain berdua.
|
|
Jika
merasa berat, kerjakan sedikit-sedikit tetapi rutin. Karena sesunguhnya
amalan yang sedikit tapi kontinyu (terus menerus/rutin) itu lebih disukai Allah.
Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan bahwa Rasulullah
shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Amalan yang paling dicintai oleh
Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinyu walaupun itu sedikit.” (HR. Muslim).
Sempatkan pula sholat dhuha meski hanya dua rakaat. Selain berpahala, sholat
dhuha akan menjadi sarana penenang hati yang efektif di tengah kesibukan. Pun
jika memungkinkan, upayakan untuk menambah sholat fardhu dengan nafilah. Toh,
nambah dua rakaat tak lebih dari 10 menit. Anak rewel? Okelah,
tapi tak setiap sholat anak pasti rewel kan? Sesuaikan saja dengan
kondisi yang ada. Allah paling Tahu kok apakah kita benar-benar berudzur atau
hanya beralasan saja.
|
|
Sambil
menyelam minum air. Hal ini juga bisa kita terapkan dengan mendengarkan
murottal dan ceramah sambil beraktivitas. Asalkan, memang benar-benar
didengar dan diperhatikan. Karena jika al-Qur’an dibaca, maka kita harus
mendengar dan memperhatikannya dengan baik, bukan sambil lalu. Begitu juga
dengan dengan dzikir, tentu bisa kita lakukan dengan menyambi melakukan
sesuatu.
|
|
Bagaimanapun,
tarbiyah diri kita juga merupakan tanggung jawab suami. Bicarakan dengan
suami untuk meluangkan waktu—bakda subuh misalnya—setiap sepekan sekali untuk
bermajelis berdua dan memberikan taushiyah maupun taklim kepada kita.
Termasuk pula, membicarakan kesempatan bagi kita untuk hadir di majelis
taklim yang ada diluar.
|
|
Sebuah
hal yang lumrah dan wajar jika kita merasa lelah, jenuh,
bosan, dan sebagainya. Yang penting, segera atasi perasaan tersebut
dan tidak berlama-lama dibuai olehnya. Sejatinya, medan rumah tangga adalah
medan tempur yang sebenarnya bagi akhawat. Disinilah tahapan yang menguji
kualitas diri dan konsistensi yang dimiliki. Disinilah pertarungan yang
sesungguhnya. Justru ketika menjadi istri, menjadi ibu. Petaruhan sebuah
keistiqamahan. Mari kita jawab tantangan ini. Futur setelah menikah? No Way!
(biidznillah..)
|
Repost: http://ishlah.blogspot.co.id/2013/10/futur-setelah-menikah.html |
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Alhamdulillah masa SMA diberikan kesempatan untuk mengikuti lomba musikalisasi bareng Helmi, Arif, Geraldo, Leo, Reinhard, Deswhy, Rafika d...
-
Dalam suatu keluarga, ada 3 bersaudara terlahir dalam keluarga tersebut. Yang paling besar namanya Diki, yang kedua bernama Dini, dan yang k...
























