Minggu, 17 April 2016

Tanya

Senja telah pamit dari hadirnya hari ini,
Terbesit sebuah pertanyaan klasik untuk kita,
Akankah ia kembali di esok hari untuk menyapa?
Dengan berakhirnya senja ini, sudah seberapa banyak bekal yang telah disiapkan?

Hari ini matahari pun menghilang di ujung Barat langit bumi,
Sudahkah hari ini lebih baik dari kemarin, atau sama saja, atau malah lebih buruk?

Langit malam sunguh indah,
Bintang -bintang berkolaborasi dengan bulan dan awan, bukankah itu indah?
Pernah terbayangkan kah jika indah itu hanya untuk hari ini?

Tuhan, Kau berikan aku nikmat yang luar biasa,
Tapi sedikitpun aku tak pernah bersyukur, bahkan aku terlena,
Aku takut nikmat ini pergi, tapi hanya rasa takut sementara, setelah itu lupa,

Hei iman!!!!
Kenapa kau naik turun!!!!
Aku benci ketika kau membuat aku kuat aku juga benci ketika kau membuat aku lemah!!
Kenapa kau biarkan aku dalam ketidak konsistenan!!

Sendiri, aku takut..
Izinkan aku berada dalam barisan ketaatan, dalam barisan yang selalu menyebut namaMu...

Jumat, 15 April 2016

24 Jam

Setiap orang mempunyai jatah 24 jam yang sama setiap harinya. Yang membedakan adalah bagaimana seseorang menggunakan 24 jam yang ia miliki menjadi sesuatu yang luar biasa atau malah berlalu begitu saja.

Setiap hari orang terbangun dari tidurnya, bersiap memulai aktifitas dan rutinitas yang ia kerjakan, bermain, bercanda, kemudian istirahat, makan, minum, lalu istirahat, dan ia akan menghadapi lagi hari esok. Begitu lah setiap harinya. Ini adalah rutinitas yang pasti dilalui oleh setiap orang.

Hei kawan, 24 jam yang kita lalui memang adalah jatah waktu yang tidak berbeda setiap harinya dengan yang di dapat oleh yang lain. Tapi banyaknya 24 jam yang diterima tidaklah ada yang tahu ada berapa dan sampai kapan, bahkan Muhammad saw, makhluk di dunia yang paling dimuliakan oleh Allah tidak tahu berapa banyak 24 jam yang Ia miliki.

24 jam memang terlihat pendek, tapi akan terasa lama buat mereka yang menyia-nyiakan 24 jam itu. Kawan, kita tidak pernah tahu kapan kematian akan menjemput kita, mungkin sejam lagi, esok, bulan depan, tahun depan, atau kapanpun itu. Sudah siapkah bekal kita akan itu? Kita mungkin masih melihat matahari pagi ini terbit dari Timur, bagaimana esok?

Kalau yang lain memulai harinya dengan terbangun dari tidur, dan memulai aktifitasnya, kenapa kita tidak memulai hari itu dengan tahajud di sepertiga malam, kemudian sholat shubuh di mesjid, menjadi seorang pejuang shubuh.

Kalau yang lain memulai harinya dengan terburu-buru dan tergesa-gesa sampai tak membuatnya duduk bersama dengan keluarga untuk sarapan dengan anggapan itu bisa membuatnya telat sampai ke kantor, kenapa kita tidak memulai hari lebih pagi, sempatkan dirimu untuk bercerita sedikit dan sarapan bersama dengan keluarga. Jangan sampai gara-gara ketakutan dengan si bos, sampai membuat kita bahkan lupa untuk mencium tangan ibu kita, pamit dengan istri, atau keluarga kita.

Kalau yang lain karena fokus dan totalitasnya dalam kerja, menganggap kerjaannya bisa terganggu dengan sholat dhuha, kenapa kita tidak menjadikan dhuha sebagai jurus jitu dalam menyelesaikan setiap masalah dalam kerjaan dan bisnis kita.

Kalau yang lain merasa tidak punya waktu untuk sholat dan tilawah karena jam istirahatnya benar-benar ingin digunakan untuk istirahat, kenapa kita tidak menjadikan sholat dan tilawah itu sebagai bentuk istirahat kita dalam bekerja.

Kalau yang lain merasa ia harus lembur hari ini untuk bisa dapat uang lebih dan bisa membelikan sebuah mainan untuk anaknya, kenapa kita tidak berfikir untuk bisa pulang lebih awal hari ini untuk bercanda dengan anak dan keluarga. Banyak mereka yang bekerja benar-benar fokus mengejar materi dengan tujuan membahagiakan keluarga, eh malah menelantarkan keluarga. Lembur tidak masalah dan semangat kerja itu juga tidak salah. Yang menjadi masalah adalah jangan sampai semangat kita menjemput rezeki itu membuat kita mengabaikan keluarga. Pulang malam setiap hari, ketika pulang, anak dan istri sudah tidur, ketika mereka belum tidur, kita tidak sanggup untuk bermain dan bercerita. Kita bekerja untuk mereka tapi waktu kita tidak ada untuk mereka. Hemm. Ada yang salah bukan?

Kalau yang lain menunda sholat magrib sampai malah meninggalkannya karena ada meeting, pekerjaan yang genting dan ribet jika tidak dituntaskan, kenapa kita tidak mengutamakan sholat itu padahal itu lebih genting dan ribet di akhirat nanti.

Kalau yang lain memilih makan malam di luar rumah karena harus lembur, kenapa kita tidak memilih untuk bisa makan malam bersama dengan mereka yang sudah menunggu di rumah. Bertukar pikiran akan hal-hal yang kita dan ia alami, mendengarkan cerita anak ketika ia bersekolah hari ini, dan membentuk majelis paling tidak dengan suami/istri untuk sharing akan ilmu agama. Mau dibawa kemana sebuah pernikahan jika ia tidak membuat kita semakin taat.

24 jam begitu berarti, sangat berarti, jangan kau siakan waktu itu berlalu begitu saja, jangan sampai ada penyesalan sedikitpun akan 24 jam yang berlalu. Profesi tiap orang mungkin berbeda, cerita di atas mungkin berbeda dengan yang masing-masing alami. Tapi kembali lagi akan 24 jam yang kita habiskan hari ini? Sudah bermanfaatkah buat kita, keluarga kita, dan lingkungan kita?

Kamis, 14 April 2016

Untukmu Yang Sedang Dalam Penantian, Pengharapan, & Ketaatan

Menikah itu menyempurnakan separuh agama. Ia bukan sesuatu yang berlalu begitu saja. Perlu banyak hal yang harus disiapkan, dari bekal ilmu, mental, kedewasaan, hingga materi. Semua orang gencar-gencarnya mencegah zina dengan menikah. Itu baik, tapi tidaklah mudah.

Untukmu yang ingin segera menikah, kalau menikah kalian hanya karena ajang gengsi, ikut perkembangan zaman untuk nikah muda, merasa tersaingi dengan teman-teman yang sudah terlebih dahulu menikah, coba fikirkan dan tinjau ulang, atas dasar dan karena apa kalian menikah. Sudah seberapa siap kalian berada di zona tersebut. Hal positif akan jadi motivasi, tapi jangan melupakan hal negatif. Hal negatif juga harus difikirkan sebelum menikah. Cobalah untuk menyiapkan apa yang orang-orang mungkin lupa untuk ia siapkan. Jadikan pernikahanmu sebuah pernikahan yang menebar manfaat untuk dirimu, keluarga kecilmu, hingga lingkunganmu.

Untukmu yang sedang memantaskan diri, janganlah singkirkan tujuan utama perbaikan diri ini. Kita bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik bukan karena kita ingin menikah ataupun mendapatkan jodoh yang sempurna. Hati-hati akan niat yang salah ini. Perbaikan diri itu lillah, jodoh itu insyaAllah mengikuti nantinya. Banyak mereka yang ingin menikah, ketika melihat seseorang ikhwan/akhwat yang sholeh ataupun sholehah lalu ia berfikir aku akan memperbaiki diri agar bisa meminangnya. Eits hati-hati.!!! Hidayah memang bisa datang dari mana saja, oleh siapa saja, dan kapan saja. Dari dia juga bisa, tidak ada yang salah, tapi harus segera diluruskan kembali niat ini. Sekali lagi kalimat ini harus saya sampaikan. Perbaikan diri itu lillah, jodoh itu insyaAllah mengikuti nantinya.

Untukmu yang dalam penantian. Sungguh penantian adalah hal yang benar-benar menguji diri kita. Kuatnya seseorang untuk tidak tergoda akan hawa nafsu memang berbeda-beda, ada yang memang ia kuat, ketika digombalin sedikit, ia biasa saja malah memilih untuk mengakhiri pembicaraan yang ia rasa tidak penting. Tapi ada juga yang ketika di digombalin, dia langsung klepek-klepek (kata orang sekarang) hehehe. Berhati-hatilah kawan.

Ada sebuah perumpamaan, "Kenapa berfikir menghadirkan benteng yang kuat walaupun terus dipukul dia tetap kokoh, kenapa tidak berfikir bagaimana agar benteng itu tidak terus dipukul, baik ia benteng yang kuat ataupun lemah". Dalam suatu pembicaraan dengan seorang teman, ia bercerita kalau ia sedang dekat dengan seseorang, tapi insyaAllah ia tidak akan tergoda ataupun
berharap sedikitpun dengannya. InsyaAllah ia kuat. Kurang lebih seperti itu pembicaraan kami. Sekuat apapun benteng itu, kalau ia dipukul terus menerus pasti akan retak juga. Kenapa tidak melakukan pencegahan agar benteng itu tidak dipukul.

Untukmu yang dalam pengharapan, tak perlu takut akan jodoh yang tak kunjung datang menjemputmu, mungkin saat ini bukan waktu yang tepat untukmu, mungkin masih ada hal-hal yang harus disiapkan olehmu untuk itu. Teruslah berdoa, fokus ke perbaikan diri. Walaupun ia ada di kutub Utara, kalau jodoh pasti ketemu jua. Dia akan hadir di hadapanmu ketika kau dan dia sudah sama-sama siap menuju bahtera kehidupan baru.

Yuk saling mengingatkan dan saling menasehati, semoga menginspirasi, walaupun penulis juga belum merasakan tahapan-tahapan itu hehehe.. Mohon doanya untuk kita semua...

Minggu, 03 April 2016

Islam dan Suku

1. Kita tak pernah memilih dilahirkan dimana, dari keluarga apa, suku apa | karena itulah semua itu disebut dengan takdir, ketetapan Allah

2. Bentuk badan, warna kulit, itu semua tidak pernah kita pilih | termasuk orangtua dan tempat lahir, itupun semua ketetapan Allah

3. Allah itu adil, karenanya Allah takkan pernah menghisab takdir itu | Allah takkan minta pertanggungan tentang semua yang Dia tetapkan

4. Terhadap kesemua takdir itu, kewajiban yang Allah beri hanya satu | beriman pada takdir, bahwa itu adalah ketetapan Allah yang adil

5. Maka Islam tak pernah menyoal tentang suku, warna kulit, bentuk badan | Allah dan Rasul bahkan berkali-kali menegaskan hal itu

6. Beda dengan Islam dan iman, itu adalah pilihan, yang akan dihisab | beriman atau kafir, taat atau maksiat, kesemuanya pilihan manusia

7. Dan Islam benar-benar memberi fokus, bahwa ketakwaan itulah pembeda | bukan tempat lahir, suku, warna kulit, keturunan bangsawan, bukan

8. Maka Islam tak pernah mencela manusia, Islam mencela perilakunya | karena manusia bisa berubah, tapi perilaku punya nilai yang tetap

9. Dari situ, lahir di Indonesia, keturunan Cina, laki-laki, itu takdir bagi saya | takkan dihisab oleh Allah, sebab itu ketentuan-Nya

10. Tapi menjadi Muslim, memilih untuk taat pada syariat, mendakwahkan Islam | itu semua adalah pilihan, yang wajib kita banggakan

11. Jadi bila ingin mencintai manusia, cintailah ketaatannya | bukan mencintai fisik, suku, bentuk badan, warna kulit, yang tak penting

12. Dan bila membenci, bencilah perilakunya, maksiatnya, kekufurannya | bukan membenci orangnya, sukunya, warna kulitnya, itu salah

13. Karena manusia bisa berubah, hari ini baik bisa jadi besok jahat | hari ini jahat bisa jadi besok taat, cintai dan benci seadanya saja

14. Cintai Islamnya, walau lain suku, lain warna kulit, beda negara | maka kecintaan itu tetap akan ada dan bertahan, cinta karena Allah

15. tapi bila dahulukan cinta suku, cinta warna kulit, cinta negara | maka lain suku, lain warna kulit, lain negara, sulitlah ada cinta

16. Sebab segala selain Allah musnah, maka hati-hati mendasarkan cinta | cintailah karena Allah, kelak kecintaan kita sampai akhirat :D

Repost
By: Ustadz Felix Siauw

Sabtu, 26 Maret 2016

Kamu Bersyukur atau Tidak?

Banyak dari kita yang kurang bersyukur akan hidup yang dijalaninya saat ini. Merasa dirinya lebih rendah dibandingkan yang lain, merasa hidupnya tak adil, merasa Allah tidak sayang kepadanya.

Hei, tidak sadarkah kita bahwa tak ternilai nilai yang sudah Allah beri ke kita sejak kita lahir. Kitalah yang kurang bersyukur, mengingat kuat akan kesedihan yang datang, melupakan sekuat-kuatnya akan nikmat dan kebahagian yang sudah diberikan ke kita.

Aku sendiri mungkin masih jadi orang yang kurang bersyukur hingga saat ini. Ketika kita bisa bersekolah di sekolah favorit kita menganggapnya biasa saja. Ketika kita sudah lulus di salah satu universitas, kita merasa itu bukan universitan pilihan utama kita, sehingga kita meninggalkannya. Ketika kita sudah berada di universitas pilihan kita, kita merasa itu bukan jurusan yang kita inginkan. Padahal kita kuliah tanpa biaya alias beasiswa full plus uang saku dan plus kepastian lapangan pekerjaan.

Astaghfirullah begitu kurang bersyukurnya kita. Setelah kita wisuda, kita mendapatkan pekerjaan yang jauh dari kota dan kita masih belum bersyukur kenapa jauh dari kota. Padahal banyak mereka yang bergelar sarjana hingga saat ini masih pengangguran dan menanti panggilan dari suatu perusahaan.

Di saat kita sudah mendapatkan penghasilan yang lumayan besar dengan status A.Md dan mengalahkan mereka yang sudah lama mengabdi untuk perusahaannya bahkan mereka yang bergelar sarjana di kota, kita merasa iri dengan penghasilan mereka yang bergelar sarjana disini.

Astaghfirullah, maafkan hamba ya Allah. Malah ada rasa iri dengan mereka yang bekerja di kota, kadang terbesit keinginan dan pikiran, "Mending di kota aja gaji lebih kecil sedikit tidak apa-apa yang penting tidak kerja di pelosok gini", astaghfirullah lagi-lagi kita kurang bersyukur padahal angka penghasilan yang didapat ini malah 8diidam-idamkan sama mereka yang bekerja di daerah perkotaan.

Rezeki Allah yang mengatur, kitalah yang harus bekerja keras. Besarnya penghasilan seseorang tidak bisa dinilai dari quantity rupiahnya. Mereka yang berpenghasilan 1 - 2 juta, pasti akan habis juga penghasilannya, mereka yang berpenghasilan 2 - 3 juga akan habis juga, 4-5 juta juga begitu, bahkan yang sudah menyentuh 2 digit di depannya juga akan merasa sama, kok habis gitu aja ya.

Jadi perbedaan diantara semuanya ada di titik syukur. Mereka yang berpenghasilan 2 digit belum tentu puas dan bahagia, bisa saja merek yang berpenghasilan 1-2 juta malah lebih bahagia. Iya itu di titik syukurnya. Bersyukur, bersyukur, bersyukur. Itu kuncinya. Bukankah ketika kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat itu?

Reminder buat diri saya sendiri, dan semoga bisa jadi reminder buat yang membaca ini. Berapapun penghasilanmu, tetap sisihkan sebagian rezeki kita di jalan Allah, tetap bersyukur akan yang kita miliki sekarang, yakinlah Allah menunggu kita bekerja keras dari sebelumnya... Bismillah teman-teman.. :)

Minggu, 13 Maret 2016

Learn What You Know & Share What You Know

Belajar tidak lepas dari adanya kebutuhan manusia untuk bisa melangkah maju. Setiap hari adalah sebuah pelajaran. Pelajaran yang kadang orang menganggapnya adalah hal yang biasa. Padahal dari situlah orang berkembang. Mereka yang bisa menjadikan hari-harinya adalah sebuah pelajaran, merekalah yang berdiri di atas dengan masing-masing kesuksesannya. "Belajar itu kan di sekolah", iya benar belajar memang di sekolah, tapi itu salah satunya tempat media kita belajar. Lingkungan, rumah, bahkan meja makan pun bisa jadi media untuk kita belajar.

"Mereka adalah orang yang merugi, yang melalui harinya seperti biasa, dimana hari ini sama dengan hari yang lalu", bukankah dikatakan seperti itu?. Hari tak selamanya indah dan berjalan mulus, tapi indah ataupun buruknya hari itu, dari situlah kita belajar. Bagaimana dalam keadaan senang kita belajar bersyukur, dan dalam keadaan sulit kita belajar bersabar. Tapi itu hanyalah sebagian kecil yang kita pelajari, banyak lagi yang harus kita pelajari.

Kita bukanlah bayi yang harus disulang baru kita makan. Itulah ibaratnya ilmu. Kita belajar bukan hanya karena kita disuap. Jadikan lah pelajaran itu sebuah kebutuhan, dimana kita merasa lapar kita berusaha untuk mencari makan sendiri dan menyulangkan makanan itu ke mulut kita sendiri.

Setelah proses itu berjalan lancar, belajar bukan hanya ketika kita belajar sesuatu hal, tapi belajar saat ini adalah kita belajar ketika kita mengajarkan sesuatu hal ke orang banyak. Ketika ilmu kita sharingkan ke banyak orang, dari situlah ilmu kita lebih berkembang melebihi ilmu yang kita dapat ketika belajar sendiri. Ilmu takkan berkurang ketika kita berbagi ilmu yang kita miliki. Cobalah sendiri, maka kau akan merasakan sesuatu yang berbeda dengan ilmumu. Ilmu bukan hanya milik kita sendiri, tapi milik Allah yang dititipkan dan dibagikan ke kita.

Jadi, ilmu apa yang kau pelajari hari ini dan ilmu apa yang kau ajarkan hari ini. 😊
Learn what you don't know and share what you know.